“Mamaaaaaaa!!” Lene berlari dan memeluk kaki Alioth yang sedang memasak makan siang.
“Ada apa?” Alioth mengelus kepala Lene
“Kakak nakal!”
“Hmmm, ya nanti mama pukul” Alioth meneruskan memasak. Plio yang mendengarnya berteriak dan mencoba merayu Lene dengan permen namun tidak berhasil.
Siang itu begitu terik. Bahkan Rechan yang begitu rajinpun tertidur di sofa. Plio dan Klio tertidur di karpet di depan tv dan Lene dan Lena menumpakinya. Hanya Alioth yang masih bertahan. Ia mandi dengan air dingin dan memaksa Lene-Lena juga mandi dengan air dingin. Plio dan Klio yang tak bisa dibangunkan ia siram dengan air es. Rechan baru saja mandi dan Alioth tidak membangunkannya.
“Curang! Kenapa Rechan tidak dibangunkan juga!?”
“Dia sudah mandi, dia juga sudah bekerja keras, tidak seperti kalian, hanya bermalas-malasan! Tidak berguna!”
“Uwaaa! Jangan bilang begitu bu!”
“Ibu menyesal melahirkan kami?” Klio berkata dengan kalem
“Lumayan”
“HEEE!? Lumayan itu jawaban yang sulit di definisikan!”
“Memangnya bagaimana ibu melahirkan kami?” Klio menatap Alioth dangan tajam
“Tidak sopan!”
“Aku hanya ingin tau, kau mewarisi tatapan ini”
“Hmmm, hari yang berat” Alioth membayangkan masa lalunya
“Ceritakan! Ceritakan!” Lene Lena ikut-ikutan sambil melompat-lompat”
“Hari itu, hm, kalian duduk bisa tidak!”
“Eee? Baiik”
***
Mobil-mobil berseliweran tanpa perasaan. Nenek yang menyebrangpun tak mereka pedulikan. Sepertinya tak ada harapan untuk menumpang. Ia sudah putus asa menyetop mobil di jalan. Sebesar apapun ia berharap ada yang berhenti, itu tak berguna. Ia berlari kembali ke rumahnya dan mengambil motor dengan seluruh tenanganya yang tersisa. Sialnya, motor itu terlalu berat untuknya sekarang.
“A!! Alioth san!!” Seorang anak berlari menuju Alioth dan menghampirinya
“Ah! Grale! Bisakah kau...” Ia tidak jadi melanjutkan kalimatnya “Tidak jadi” Alioth melihat Grale yang kebingungan. Lagipula apa yang bisa anak umur sembilan tahun perbuat untuk membantunya ke rumah sakit sekarang?
“Kau mau melahirkan!?” Grale terbelalak “Tapi kenapa tidak pakai taxi!?”
“Tidak ada yang berhenti, minggir, aku sudah mau melahirkan” Ia membawa motor ke tepi jalan
“Jangaan!! Kau bisa kecelakaan!” Grale menarik baju Alioth
“Dari pada aku melahirkan di sini!”
“Aku akan telfon Ibu! Berikan kunci rumahnya!” Grale mengambil kunci rumah Alioth dan menuju telefon
Alioth tidak tahu lagi apa yang harus ia lakukan. Benar kata anak itu, ia tak akan sampai ke rumah sakit dengan motor itu, lagi pula tak akan ada yang menolongnya. Ia membayangkan kalau ia akan melahirkan di sini. Tidak, ia tidak akan melahirkan di sini! Ia bisa menahannya. Ia meneguhkan hatinya dan berfikir betapa banyak pengalaman yang lebih berat.
“Kalau hanya ini, ugh!” Alioth memegang perutnya dan mengerang “Cih! Sial! Kalian bersabar sedikit dong!” Dengan tiba-tiba sakit itu hilang beberapa menit “Waw, aku tidak menyangka akan menurut, aneh sekali~”
“Ibu datang!” Grale berlari keluar menyambut Hallevie. Alioth hanya melongok sambil memegang perutnya
“ASTAGA!!!” Hallevie berlari menuju Alioth
“Kau kemari pakai apa hah? Cepat sekali”
“Tak penting! Ah, ah!” Ia mencari sesuatu “Oooh!!”
“Ngapain sih” Alioth kembali memegang perutnya. “Hei!”
“Ayo cepat! Nanti ketubannya pecah!” Ia menyuruh Grale menaikkannya ke motor
“K..kau yang” Alioth tampak ragu
“Tentu saja! Cepat naik, kita akan ngebut”
Grale mebantu Alioth naik motor. Hallevie menyalakan mesin dan melaju dengan sangat ngebut. Asap yang mengepul membuat Grale batuk-batuk. “Astaga, kenapa semua istri ayahku ini gila ya...” Ia diam mencerna suasana “Eee! Lalu aku harus berbuat apa!?” Ia melihat kunci rumah Alioth.
***
“Dokter! Ada yang mau melahirkan!!” Hallevie menuntun Alioth, ia meneriaki suster karena panik
“Bu! Ruangan habis!”
“APA!? BODOH! KALIAN BODOH!!” Hallevie menunjuk muka suster yang kaget
“Su.. sudahlah Hallevie, kita, Agh! Kita ke rumah sakit lain saj..” Alioth mengerang
Suster lain berlari menuju mereka dan berteriak “Ada ruangan! Cepat!”
Alioth dibawa ke ruangan itu dan Hallevie mengikutinya. “Tunggu! Alioth aku akan mengurus sesuatu, kau bisa melahirkan sendiri kan?”
“Bicara apa kau? Suster akan membantuku”
“Berusahalah!” Hallevie berlari menuju arah yang berlawanan. Ia mencari suster lain yang tadi mengurus ruangan. Ia bertanya, ruang apa yang mereka sediakan untuk Alioth
“Anu, karena tadi ibu terus berteriak, kami berusaha mencari ruang apa saja, dan kami hanya dapat ruang itu, kami menginformasikan ruang pertama yang kami lihta kosong” Suster itu terlihat gugup
“R..ruang apa!? Jangan menakut-nakuti! Ini menyangkut nyawa kau tau!”
“R.. ruang super VVIP” Suster itu terlihat bingung sekarang
“Fiuuh~” Hallevie bernafas lega dan berlari menuju Alioth lagi. Namun dalam perjalanannya menuju ruangan yang tadi suster informasikan, ia menyadari sesuatu “ Super VVIP!!?”
***
Seseorang berlari dengan terburu-buru. Ia menyelinap diantara orang sakit dan terkadang hampir jatuh tersandung suster yang berjalan. Ia berhenti karena ragu apakah itu ruangan yang benar, namun setelah ia mendengar tangisan bayi, ia yakin kalau itu ruangan yang benar. Ia membuka pintu dan melihat seorang wanita menggendong dua bayi.
“Alioth!!”
“Bodoh” Hallevie mengepalkan tangannya
“Eeeh!?”
“Kenapa kau baru datang hah!”
“Eee, aku”
“Tapi aku bersyukur” Alioth melihat suaminya yang terengah dan berantakan
“Bersyukur karena aku datang !? oooh!!” Echan berputar-putar
“Bukan, aku bersyukur anakku tidak mirip kau”
“Hiee!?”
Hallevie tertawa, Alioth mencium kening anaknya. Ia sangat senang anaknya kembar dan dua-duanya laki-laki. Ia berharap mereka akan menjadi anak yang penurut dan tidak menyusahkan. Echan menyentuh bayi-bayi itu, dan seketika mereka menangis dengan kencang
“Ara, mereka tidak menyukaimu hahaha” Hallevie tertawa
“Jangan sentuh!”
“Ooh! Kalau menangis seperti ini, hihihi” Wajah Echan memerah dan dari hidungnya keluar darah
“Alioth, apa aku harus harus mengusirnya?”
“Usir saja” Alioth menatap Echan yang sedang berpikiran mesum
“Apa yang kau pikirkan?” Hallevie menatap Echan dengan tajam
“Aku? Aku ingin melihat... Ah! Maksudku, kalau mereka menangis kan... Ah maksudku, Alioth harus menyusui mereka, ah!”
“K.. Kau! KELUAAAAR!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!”
“HIEEEE!?”
***
Ruangan itu hening, Plio bengong dengan mulut terbuka, Kliomalah mengantuk, Lene dan Lena diam tak mengerti.
“Kalian ini mau dengar cerita tidak sih!?” Alioth mulai berasap
“Hieee!? Mau!”
“Jadi saat ibu melahirkan kami menyusahkan sekali ya” Klio mulai menghilangkan rasa ngantuknka dengan menampar pipinya sendiri
“Hmm, yah kalian tidak sabar keluar sih, tapi itu sudah berlalu. Aku tak pernah membayangkan kalian akan tumbuh seperti ini”
Plio dan Klio hanya diam. Rechan terbangun dan kaget menyadari ia telah tertidur. Ia meminta maaf pada Alioth karena telah tertidur. Bagaimanapun Alioth memaafkannya, Rechan tetap meminta maaf.
“Anu, Rechan” Ucap Plio
“Apa?”
“Kau imut”
“HIEEEE!!??”
Sebenarnya bukan itu yang ingin Plio katakan, ia hanya ingin bertanya bagaimana saat Rechan dilahirkan. Namun ia lupa, kalau Rechan tak pernah tau, siapa yang melahirkannya. Ia pasti tidak tahu, bagaimana ia dilahirkan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar