24 Desember
06.25 pm
Aku melihat penampilanku di cermin. Kupikir aku sudah tampak rapi. Aku hanya menggunakan kemeja santai berwarna hitam motif garis-garis putih, celana jeans, dan jaket tebal untuk menghangatkanku dari dinginnya udara bulan Desember. Mengapa demikian? Malam ini aku diajak makan malam di rumah Xylia bersama keluarganya.
Beberapa hari yang lalu aku mengajak teman-teman kampusku untuk melewati malam ini bersama. Namun mereka menolaknya, dengan alasan pekerjaan atau lebih memilih melewati malam sebelum natal bersama keluarganya masing-masing. Lalu kemudian iseng-iseng kusapa Xylia yang kebetulan lagi online. Pada awalnya kami hanya membicarakan hal-hal tidak penting, sampai akhirnya dia menanyakan padaku, apa yang akan kulakukan pada malam sebelum natal ini. Kukatakan saja kalau aku tampaknya akan diam di rumah bersama Grale dan Gadang, karena Oyaji dengan para ibu akan pergi. Dan dia pun mengajakku. Begitulah.
Sebenarnya dari dulu aku sering bermain ke rumahnya, tetapi malam ini adalah malam sebelum natal, christmas eve. Dapat dikatakan kalau christmas eve adalah malam yang formal, seformal thanksgiving. Oleh karena itu, entah mengapa aku merasa sedikit out of place. Namun kemudian akhirnya aku memberanikan diri keluar dari rumahku, masuk ke mobil, dan pergi menuju rumah Xylia.
06.30 pm
Di meja makan telah tersedia enam set alat makan. Aku memeriksanya sekali lagi karena sebentar lagi makanan sudah siap untuk disajikan. Ada ayahku, ibuku, aku, dan tentu saja adikku. Lalu untuk apa dua set alat makan lain di meja makan? Karena akan ada dua orang tamu yang kuundang. Kimi dan Wolfwood.
Aku merasa simpati saat Wolfwood mengatakan di chat-nya padaku bahwa ia akan melewati malam sebelum natal di rumah hanya bersama kakaknya Grale-san. Aku tahu ia tidak suka berdiam diri bersama Grale-san. Menurutnya Grale orang yang terlalu membosankan dan terlalu sering galau, tapi menurutku itu tidak benar. Grale-san orang yang baik dan sangat pengertian. Kalau Grale-san tidak seperti itu, siapa yang akan mengurus Wolfwood selama ini. Oleh karena itulah aku mengajaknya, Wolfwood, makan malam di rumahku.
06.55 pm
Akhirnya aku sampai di depan rumah Xylia. Kutekan tombol bel rumahnya, dan muncullah adiknya membukakan pintu. Aku masuk, melepas jaketku, dan menggantungnya di hanger. Aku dapat mencium aroma ayam yang baru keluar dari oven. Karena aku datang tepat saat hidangan makan malam telah disajikan, akupun dipersilakan langsung duduk di kursi meja makan. Awalnya aku terkejut melihat Kimi, teman sekampus Xylia, yang duduk di kursi meja makan di sudut lain. Xylia tidak mengatakan sebelumnya bahwa Kimi juga akan hadir di acara makan malam itu. Tapi itu hal bagus. Setidaknya aku tidak perlu merasa terlalu terasingkan. Lalu setelah semua sudah siap, kamipun mulai menyantap makan malam yang telah disediakan.
“Kimi, Wolfwood, bagaimana chicken casserole-nya?” tanya ayah Xylia padaku dan Kimi.
“Hmm... Enak, sedikit pedas... Ginger ya?” jawabku menebak.
“Ya, memang ada ginger, beserta beberapa spices lainnya,” ibunya menjawab. “Kau tampaknya mengerti hal-hal ini, Wolfwood. Kau suka memasak?”
“Sejak kapan Wolfwood bisa masak?” celetuk Xylia dengan tatapan jahilnya.
“Memang tidak bisa masak,” kutatap sinis Xylia sesaat. “Grale yang masak, tapi aku rasa aku berbakat dalam hal rasa.”
“Ya baiklah, terserah kau saja,” Xylia menjawab dan melanjutkan makan malamnya.
“Rasanya pas, lezat sekali,” Kimi memberikan opininya setelahku.
Suasana seperti ini membuatku berpikir, kapan terakhir kalinya aku dapat makan di meja makan bersama-sama? Ya, hal itu sangat jarang terjadi, terutama akhir-akhir ini. Duduk di meja makan, sambil menikmati hidangan yang disajikan dan bercerita. Semua terlalu sibuk dengan urusannya masing-masing, dan yang paling menjengkelkan adalah saat semua dapat meluangkan waktunya, Oyaji malah mengajak para ibu pergi dan meninggalkan anak-anaknya sendiri.
07.15 pm
Setelah makan malam selesai, aku dan Ibu membereskan piring-piring dan menyimpan makanan sisa. Ayah, ..., Kimi dan Wolfwood duduk di ruang keluarga mencari siaran di TV yang menarik sambil menyantap potongan buah-buahan. Tampaknya yang dapat mereka tonton hanyalah berita-berita atau film-film yang berhubungan dengan natal, atau iklan-iklan sale natal dan akhir tahun. Tidak ada yang menarik. Merekapun lalu membicarakan hal-hal random, seperti tim baseball mana yang kira-kira paling kuat di tahun depan, kecelakaan atau bencana apa yang akan berpengaruh dalam cuaca dingin seperti sekarang, makanan apa yang paling enak saat musim dingin, atau lebih baik mati kedinginan di kutub utara atau mati kepanasan di Hawaii. Betul-betul pembicaraan yang random.
Aku dan Ibu akhirnya bergabung dengan mereka saat cucian piring kami selesai. Pembicaraan sempat terhenti, mungkin karena bingung pembicaraan random apa lagi yang dapat dibicarakan. Kamipun lalu memperhatikan siaran yang ada di TV. Saat itu sedang disiarkan tempat-tempat ramai dan tempat-tempat menarik untuk melewati christmas eve tahun ini. Ada suatu atraksi baru di pusat kota yaitu nonton air mancur yang diterangi sinar lampu yang meriah.
Wolfwood berkata “Uwaaa, Haru terlibat menyelesaikan lampu air mancur itu lho.”
“Wah, serius?” tanya Kimi penasaran.
“Ya!” Wolfwood mengatakannya yakin.
Selain tampilan persiapan atraksi itu, ada pula arena ice skating indoor di dekat pusat kota dengan dinding-dindingnya yang sebagian besar terdiri dari kaca, sehingga pemandangan di luar arena dapat terlihat. Letaknya pun tidak jauh dari atraksi air mancur itu. Menarik menurutku.
“Menarik,” ucap .... “Itu sebenarnya sudah lama dibuka, bukan? Aku sendiri hanya sempat lewat, dan belum pernah mencobanya.”
“Ya, setahuku juga sudah sejak 9 bulan yang lalu,” Wolfwood menambahkan.
“Aku baru tahu lho,” aku benar-benar baru tahu. “Kimi tahu?”
“Aku tahu,” jawab Kimi polos.
“Mengapa tidak bilang? Padahal ‘kan kita bisa main ke sana,” kataku agak kesal.
“Kalau begitu mengapa kalian tidak main ke sana saja sekarang?” ayahku bertanya.
Sejenak kami terdiam, dan lalu kamipun sepakat untuk bermain ke arena ice skating itu, tapi hanya aku dan Wolfwood, karena Kimi harus naik shinkansen ke Nagoya dan melewati natal di rumah kakek dan neneknya. Kamipun mengantarkan Kimi ke stasiun terlebih dahulu.
08.40 pm
Setelah mengantarkan Kimi ke stasiun, kamipun mengarah ke pusat kota. Ternyata pusat kota saat itu sangat ramai. Xyliapun memberi saran untuk parkir di daerah yang sedang kita lintasi, dan berjalan kaki dari tempat kami parkir ke arena ice skating sambil lihat-lihat suasana sekeliling kami. Menurutku bukan hal yang buruk, dan akupun lalu mencoba mencari tempat parkir.
Di sepanjang perjalanan sangat terasa feel malam sebelum natal. Lampu hias berwarna merah dan hijau yang sangat tepat dengan tema natal, pohon natal dengan berbagai macam ornamennya, orang berpakaian seperti Santa Klaus yang menawarkan kue natal, serta sale barang yang tiada habisnya. Sangat ramai.
Kami benar-benar terbawa suasana, melihat-lihat dan masuk sana-sini. Mencoba headband tanduk rusa dan mencicipi sample ginger cake yang ditawarkan, serta ikut bernyanyi dengan penyanyi-penyanyi christmas carol.
Di tengah jalan aku bertemu dengan beberapa teman ... . Ia pun memutuskan untuk bergabung saja dengan teman-temannya. Xylia memperbolehkannya dengan syarat … harus minta izin dulu pada orangtua mereka. Di saat itu aku berpikir, … tidak terlalu jauh umurnya dengan kami, dan dia itu laki-laki. Seharusnya tidak perlu mengkhawatirkan hal seperti ini. Setelah … pergi bersama teman-temannya, aku dan Xylia melanjutkan jalan ke arena ice skating tersebut yang jaraknya sudah tidak terlalu jauh.
09.10 pm
Setelah berjalan berkeliling, akhirnya kamipun sampai di arena ice skating itu. Aku sempat terpana melihat bentuk arena itu dari luar. Menurutku bentuk bangunannya saja sudah sangat keren. Benar saja, arena itu memang sangat keren. Dari dalam arena, benar-benar terlihat dengan jelas suasana kota yang ramai, full of christmas spirit. Setelah persiapan, akhirnya kami menjajakan kaki di es yang licin. Jujur saja, menurutku aku cukup lihai dalam ice skating. Dari dulu aku sering datang bersama teman-temanku ke arena ice skating. Pada kasus Wolfwood, dia memang benar-benar lihai. Tentu saja, dulu dia adalah atlet ice hockey, dan aku tidak tahu alasan dia berhenti.
Di sana kami bercanda, berlomba siapa yang kira-kira lebih cepat maju ataupun mundur, melihat siapa yang bisa paling lama bertahan saat berputar, merem mendadak saat dekat dengan dinding, dan hal-hal bodoh lainnya yang menyenangkan.
10.55 pm
Kupikir sudah cukup lama kami berada di arena itu. Aku lalu mengajak Xylia untuk pergi beranjak dari tempat itu dan dia pun setuju. Sebelum benar-benar meninggalkan arena, kami sepakat untuk berlomba mengelilingi arena satu kali lagi. Karena ini putaran terakhir, Xylia mengusulkan sebuah taruhan, yaitu siapa yang kalah cepat harus memberikan piggy back ride. Menarik menurutku. Xylia cukup lincah dan dia memang tipe-tipe cewek sporty, kemampuan skating-nya juga bagus dan tidak bisa diremehkan.
Saat kami memulai lomba itu, Xylia ada di depanku, tapi tidak lama kemudian aku dapat menyusulnya. Tak sadar, jarak di antara kami memang tidak jauh, tapi aku memperlambat lajuku sedikit karena tenagaku cukup terkuras saat mengejarnya yang lincah itu. Lalu tiba-tiba aku melihat sesuatu yang mengejutkan di luar arena. Akupun terpaku beberapa saat.
“WOLFWOOOOOOOD, AWAAAAS!” Xylia berteriak di belakangku. Ia pun tidak bisa mengontrol lajunya, dan akhirnya menabrakku yang sedang melaju pelan karena terpaku pada sesuatu yang kulihat di luar sana. Aku membentur dinding kaca yang ada di belakangku dan kamipun jatuh mengenaskan.
“Aaaaw...,” rontaku kesakitan. Punggungku sakit akibat terbentur, tulang rusukku nyeri karena terkena sikut Xylia yang tajam, kaki kiriku keseleo karena saat jatuh tumpuan tubuhku tidak seimbang.
Xylia berdiri perlahan dan berseru, “Uwaaaaaaa! Maaf maaf, pasti sakit, ya? Bisa berdiri tidak?” sembari mengulurkan tangannya.
Aku menggenggam tangannya erat dan mencoba berdiri perlahan. Benar-benar sakit rasanya. “Antisipasinya kurang. Seriously, ini sakit sekali.”
“Lalu tadi mengapa kau mendadak meluncur pelan dan bengong melihat ke luar sana?” protesnya.
“Ta.. Tadi aku melihat liat Oyaji sedang berjalan dengan para ibu, lalu aku melihat Plio, Klio, Lena dan Lene membuntuti mereka.”
Akupun mencoba menguatkan diri untuk keluar dari arena.
“Sudah yuk. Ini sakit sekali, seriously.”
“Bagaimana kalau kita minum hot chocolate? Sepertinya tadi kita melewati café yang menunya serba coklat itu,” Xylia memberi usul.
“Ya, setuju.” Aku keluar arena sambil memegang tulang rusuk dan menahan sakitnya kaki kiriku.
11.05 pm
Kami memesan dua hot chocolate, dan satu paket biskuit dip with chocolate vondue, juga seplastik es batu untuk memar di kaki kiri dan daerah sekitar tulang rusuk Wolfwood. Aku suka suasana café itu. Langit-langitnya berbentuk chocolate bar, wallpapernya seolah-olah seperti coklat meleleh yang merambat turun. Suasananya hangat, sangat nyaman.
“Kok tampak sakit sekali? Memangnya itu sakit sekali ya?” tanyaku iseng.
“Tentu saja! Coba kamu bayangkan tertabrak dengan kecepatan seperti itu, dan jatuh pula!” Wolfwood terlihat kesal menjawab pertanyaanku.
“Iya iya, aku ‘kan sudah meminta maaf.” Aku benar-benar merasa bersalah.
Tak lama setelah itu pesanan kami datang. Saat mulai meminum coklat hangat dengan aroma dan rasa yang nikmat itu, wajah Wolfwood perlahan kembali berbinar. Dia mengambil salah satu biscuit vanilla dan mencelupkannya pada vondue coklat yang telah disediakan, tidak lama setelah itu diapun tersenyum dan mengambil sebuah biscuit lagi. Aku yang melihat ekspresinya yang berubah seketika itu, ingin rasanya aku tertawa. Dia terlihat seperti anak kecil yang marah dan bahagia seketika setelah diberi permen.
“Ahahahahaha..” Tawa yang tak kusadari keluar dari mulutku dengan sendirinya.
“Ada apa?” Wolfwood menatapku sambil mengangkat mug coklat hangatnya.
“Tidak, aku tertawa karena kuenya lebih enak dari yang kubayangkan.” Aku berbohong.
Dia kembali meminum coklat hangatnya, lalu meletakkannya lagi dan terdiam sejenak. “Tadi itu tidak ada yang menang ya, tapi kondisiku seperti sekarang karena kamu menabrakku barusan, jadi kamulah yang harus memberiku piggy back ride.”
“APAAA?” Tak sadar aku berteriak. Beberapa orang melihat ke arah kami, aku menutup mulutku sebentar, lalu berbisik pada Wolfwood, “tidak mau, tidak akan pernah.”
“Ayolah, itu tampak adil menurutku.” Ia masih terus menghasutku.
“Tidak!” Aku tetap tidak mau.
“Huh,” gerutunya sambil mengambil biskuit lagi lalu memakannya.
Setelah itu pembicaraan mengenai topik tersebut tidak dilanjutkan. Kami membicarakan hal-hal lainnya, dan sepertinya Wolfwood tidak keberatan kalau aku mengatakan ‘tidak’ pada permintaannya itu. Di café itu kami menghabiskan waktu untuk stretching dan istirahat sebentar setelah berjalan, skating, dan berlari cukup lama.
11.50 pm
Setelah terdiam menikmati coklat panas dan biskuit yang benar-benar enak, kami memutuskan untuk berjalan kembali ke arah mobil. Aku berjalan agak pincang akibat kakiku yang keseleo. Xylia melihatku agak khawatir, namun aku tetap mencoba memperlihatkan kalau aku masih kuat, walau aku punya firasat sakitnya masih akan terasa minimal dalam waktu 3 hari ke depan.
“Xylia, daripada melihatku khawatir begitu, lebih baik kau benar-benar memberiku piggy back ride, kau tahu.” Aku yang iseng mencoba mengungkit topik itu lagi.
Dia tampak ragu sesaat lalu berkata, “sampai belokan selanjutnya aja, ya.”
Aku sendiri terkejut dengan jawabannya itu, tapi aku mencoba untuk tidak terlihat kaget. “Begitu dong dari tadi. Tenang saja, aku tidak berat, kok.”
“Sudah cepat, lama-lama aku berubah pikiran, nih.” Dia tampak sudah mempersiapkan diri.
Perlahan aku naik ke pundaknya, dan perlahan dia benar-benar mengangkatku. Awalnya tidak begitu stabil, tapi ternyata dia dapat menyeimbangkannya dan benar-benar menggendongku sampai simpangan selanjutnya. Namun sayangnya saat hampir sampai Xylia goyah dan kita terjatuh untuk kedua kalinya hari ini.
Kali ini aku yang masih kesakitan berdiri duluan dan bertanya, “kau tidak apa-apa?” sambil menawarkan bantuan tangan.
“Ya, setidaknya tidak separah kamu,” jawabnya sambil meraih tanganku.
“Berarti kita impas ya,” mencoba untuk menyetarakan keadaan.
“Tidak, sama sekali tidak. Aku jatuh dan memberikanmu piggy back ride. Kau hanya jatuh. Lain kali kau yang memberikanku piggy back ride.” Wajahnya berubah kesal.
Aku terdiam sejenak. Dia benar, walau saat jatuh dampaknya jauh lebih sakit padaku, tapi kupikir tetap saja tidak adil. “Ya, baiklah. Kapan-kapan kalau aku ingat.”
“Kalau kau lupa, aku akan terus ingat, kok.” Xylia tersenyum puas.
Tidak terasa sudah tengah malam, tepatnya jam 12. Atraksi air mancur yang tak jauh dari posisi kami pun dimulai. Sinar-sinar lampunya menari indah di atas langit yang hitam terlihat sangat kontras, ditambah dengan suara lonceng yang beriramakan natal. Aku dan Xylia terpana sesaat, menikmati sinar-sinar dan suara lonceng itu.
“Xylia, kita pulang, yuk,” ajakku.
Xylia mengangguk dan tersenyum.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar