Jumat, 24 Desember 2010

Christmast Night


Salju yang pekat menaburi jalanan dengan remangnya, lampu jalanan yang menghiasi jalanan menambah harmoni jingga jalanan. Satu-persatu salju itu jatuh menimpa jalanan yang tak kunjung berhenti ditapaki manusia. Kucing-kucing yang meringkuk mulai pindah ke tempat yang lebih hangat.
Gadis-gadis kecil yang membawa keranjang roti berlarian dan tertawa-tawa bahagia. Musisi jalanan yang biasanya muram tersenyum dan berbagi dengan nyanyiannya.
Namun kebahagiaan itu tak selamanya dirasakan keluarga yang sedang tegang “bermain”. Mereka mengendap, saling menginjak dan memaki dalam diam.
“Sst! Nanti ketahuan bodoh!” Klio menjitak Plio dengan kesal
“Jangan injak kakiku dong!” Plio berbisik dan lari mengikuti Klio
“Sial! Mereka masuk ke sana! Oh ayolah!” Klio mulai jengkel. Mengikuti tiga orang tua memang sulit, apalagi di malam natal yang penuh orang bersenang-senang.
“Berdoa saja restaurant itu penuh jadi mereka ke tempat lain yang lebih sepi”
“Bodoh! Kalau di tempat sepi nanti malah ketahuan! Apalagi sama ibu, lagi pula dari jarak segini pun mungkin sekarang ibu sudah tau kita membuntuti mereka!” 
Karena Mereka terus berselisih, dan kedua adik kembarnya yang tak tahu apa-apa jadi terabaikan, Plio dan Klio memutuskan untuk menitipkan Lene dan Lena di tempat penitipan bayi yang baru saja mereka lewati. Lagi pula mereka akan lebih bahagia di sana dibandingkan dengan mengendap mengikuti langkah kakak-kakaknya yang cepat.
Kalau bisa dibilang, memang Plio dan Klio terkesan jahat pada adik-adiknya, tapi itu lebih baik dari pada mimpi buruk yang mungkin terjadi bila anak sekecil Lene dan Lena melihat hal tidak senonoh yang dilakukan ayahnya di malam natal. 
Semua berawal dari rumah mereka. Oyaji yang tiba-tiba datang sedang merangkul bahu Audrey dan Hallevie mengajak Alioth ikut bersama mereka. Dan yang lebih aneh, Alioth menerima tawaran itu "Sekali-kali" Ia bilang. Plio dan Klio yang curiga menguping pembicaraan para orang tua dengan penasaran.
"Tapi hanya sekali-sekali, kalau kau bertindak aneh-aneh seperti tahun lalu, aku benar-benar akan membunuhmu" Alioth menghirup tehnya.
"Te.. tenang saja sayangku~ Kita akan bersenang-senang dan tak ada kekacauan~" Kalau Echan yang berkata begitu terdengar tidak meyakinkan
"Aku tidak yakin, tapi kita bertiga, dia hanya sendiri. Aku yakin kita akan bisa mengatasinya." Hallevie tersenyum nakal
"Kalau Audrey tiba-tiba pingsan bagaimana? Dia baru saja datang kan" Alioth menatap Audrey
"E..Eh? Anu Tidak apa-apa" Audrey menjadi salah tingkah
"Hm, baiklah. Tapi, semua biaya kau yang tanggung, semua kerugian, kerusakan, sanksi, hukuman, kau yang tanggung" Alioth menunjuk Echan tepat di wajahnya
"Ee!? Ba.. Baiklah," Echan mulai merinding
"Semua biaya kendaraan, tanaga kerja, kekejaman, pembunuhan, pelampiasan dendam,..."
"Eee? kok jadi begitu? hahaha" Hallevie tertawa sambil menyingkirkan tangan Echan yang mulai meraba kemana-mana
"Hm, berjalan bersama 'itu' (Echan) memliki banyak resiko jiwa kau tahu, terlebih lagi, aku harus meninggalkan anak-anakku"
"Sudahlah Alioth, Plio dan Klio kan sudah besar, aku yakin mereka bisa menjaga Lene dan Lena. Lagi pula ada Rechan kan" Audrey yang mulai tampak khawatir dengan pembicaraan aneh ini mulai ambil bagian.
"Rechan pergi bersama temannya. Yah aku memang harus mengandalkan anak kembarku itu. Kalau begitu aku ganti baju dulu" Alioth pergi ke kamarnya dan memergoki Plio dan Klio yang menguping. Untungnya Alioth membutuhkan mereka, tidak akan menyenangkan kalau menyuruh setelah memarahi habis-habisan kan~ (ngomong apa sih aku,, lupakan saja ya :3)
Akhirnya malam itu, setelah mereka bertiga pergi, Plio dan Klio memutuskan untuk membuntuti para orang tua. Akan lebih baik dari pada dititipkan di rumah Grale si galau itu dan Wolfwood si rese itu. Mereka lebih senang dari pada harus berdiam diri di rumah sambil membawakan lagu nina bobo untuk Lene dan Lena. Yah walau begitu pada akhirnya Lene dan Lena dititipkan juga.
“Kalau begitu kecilkan suaramu” Klio tambah sebal. Ia menunggu dan menunggu.
“Ck! Aku mau masuk!” Plio mulai melangkahkan kakinya ke dalam restaurant. Namun Klio menariknya kembali
“Bodoh! Kau mau menggagalkan rencana kita hah!? Diam di sini dan tunggu!”
“Makan di rentaurant itu lama klio! Kita harus masuk kalau ingin tau apa yang dilakukan oyaji dengan para istrinya ‘kan!” Plio sangat kesal dengan permainan ini. “aku mau pulang”
“Aaaagh! Kau ini maunya apa sih!?” Klio kehabisan akal untuk menghadapi kembaranya yang menyebalkan.
“Masuk saja lah! Tak ada gunanya kita menunggu di luar kan!”
“SSST! Pelankan suaramu!” Klio menghela nafas. “Baik kita masuk, kau duluan”
“Kau kan yang puny ide, lagi pula ladies first”
“MEMANGNYA AKU PEREMPUAN APA!!?” Plio tak sabar lagi
“Ya sudah kalau laki-laki itu tak banyak omong, cepat masuk!”
“Cih sial!” Plio pun masuk dan memeriksa keadaan. “Aman” Klio pun masuk.
Mereka memeriksa kadaan lagi dan mulai mengendap mencari para orang tua mereka. Tak lama mereka di dalam restaurant besar itu, seseorang menepuk pundak mereka. Mereka hendak berteriak tapi takut mengganggu orang-orang di sana. Plio dan Klio pun menoleh dengan gugup dan berharap orang lain yang menepuk pundaknya.
“Ngapain kalian di sini?”
“RECHAN!!?” Plio dan Klio kaget
“Anu kami, kami euh” Plio bingung mau bicara apa
“Di sana ada ibu dan yang lain lo” Rechan tersenyum polos
“Apa!?” Klio menarik tangan Rechan dan membawanya menjauh
“Hei! Kenapa sih kalian ini!? Rechan melepas tangan Klio
“Kami sedang membuntuti mereka!” Plio semangat lagi
Rechan mengerutkan alis. “Untuk apa?”
“Kami hanya curiga, sebenarnya mereka mau ke mana, lagi pula tadi Oyaji bilang bersenang-senang ‘kan, bersenang-senang ala oyaji itu mencurigakan!” Plio memegang tangan Rechan dan Rechan melepaskanya
“Apaan sih kalian ini! Nanti kalau kelahatan dia gimana!”
Plio dan Klio saling tatap “dia?”
Muka Rechan memerah “ Lupakan”
“Aaaaaaaaaaaaaaaaa Aaaaaaaaaaaaaaaa~” Plio memicingkan mata
“Apaan sih!? Jangan mengeluarkan bunyi-bunyi aneh dong! Mengganggu yang sedang makan tau!” Muka Rechan memerah lagi
“Itu sensor orang yang lagi jatuh cinta tau!” Plio tersenyum nakal, Klio dan Rechan menjauh selangkah
“Sudah ah! Aku mau kembali” Rechan membalikkan badan tapi Klio memegang tangannya. “Hei!”
“Kau bilang tadi ada ibu dan yang lainnya ‘kan? Berarti kau melihatnya ‘kan”
“Eh? Iya memang kenapa? Lagian kalian mengikuti mereka ‘kan? Apa ada hubungannya dengan aku juga melihat mereka? Sudah ah kalian menyebalkan!”
“Bawa kami ke tampatmu tadi!”
“Ap.. TIDAK!”
“Kenapa?” Plio menyangga dagu rechan dengan tanggannya
Muka Rechan merah “JANGAN DEKAT-DEKAT!!” Rechan menendang dagu Plio dengan lututnya dan membuat Plio kesakitan
“Oi! Sakit! Aku kan cuma bercanda!” Plio mengelus-elus dagunya yang sakit
“Wajahmu jelek tau!”
“Kamu makan di sini?” Klio bertanya pada rechan menghentikan topik aneh Plio
“E… anu.. iya”
“Boleh kami duduk bersamamu?” Klio frontal saja toh tak ada waktu untuk basa basi
“E!? Itu… yah boleh lah…” Rechan menghela nafas “Tapi kalian harus berjanji!”
“Berjaji?” Plio berwajah bodoh
“Ya, kalian tidak boleh mengacau!”
“Siap!!!”
“Hhh~” Baiklah lewat sini
Rechan menuntun mereka ke mejanya. Melewati orang-orang yang berbincang, melewati orang-orang yang berbahagia di malam natal, melewati lilin-lilin yang menghiasi meja-meja couple. Sampailah mereka pada tempat Rechan. Di sana telah menunggu laki-laki dengan kemeja putih, memakai celana jeans biru dongker, rambutnya coklat pekat bergelombang, dipotong pendek dan rapi. Ia tersenyum pada Rechan dan yang lainya. Tangannya terletak di meja dan meminta pelayan untuk kursi tambahan. Rechan dengan malu duduk, Klio dan Plio duduk di sisi kanan dan kiri rechan dan laki-laki itu.
“Anu, sepertinya kita pernah bertemu” Klio memangdang laki-laki itu dengan tatapan tajam.
“APA!?” Rechan sangat kaget dengan pernyataan Klio “T..tidak mungkin! Tidak mungkin kalian pernah bertemu dia!”
“AH! Crell sama!” Plio baru ingat
“Ahaha kalian yang waktu itu ya, pantas saja familiar” Crell tersenyum
”U..uso! Lagi pula kenapa kalian memanggilnya dengan Crell ‘sama’!?”
“Dia dewa”
“He!?” Rechan menaikkan sebelah alisnya
“Pokoknya dewa” Plio ngotot
“Hmm, kenapa kalian bisa bersama Rechan? Aku kaget lo bertemu kalian di sini, kalian pacar Rechan?”
“APA!? BUKAN!” Rechan kesal
“Eh? Bukan yah ahaha maaf deh aku kan tidak tahu, lalu mereka ini…”
“Mereka… Adikku” lalu Rechan berkata dalam hati “Sial!!!!! AAAAARG! Kenapa harus ada mereka!?”
“O haha maafkan aku, aku kira siapa” Crell tersenyum lagi
Klio mencari-cari seseorang yang tersembunyi “Itu dia”. Plio menoleh pada arah yang ditunjukkan Klio ”EE!?”
“apa sih?” Rechan melihat apa yang Plio lihat
“Itu, ibu dan yang lain, memang terlihat dari sini, makanya aku menyuruh rechan membawa kita kemari agar lebih mudah memantau mereka”
“Ooh!” Plio terkesan
“Kalian sedang membuntuti mereka ya? Kalau begitu jangan berisik” Ucap Crell
“Eh anu…. Itu maaf kelakuan mereka memang aneh tidak udah di pedulikan ya hahaha” Rechan memerah lagi
“Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaa~”
“KUBILANG JANGAN..”
“ssssst nanti ketahuan!”
Rechan menggeram. “Tak apa kok, aku sudah tau kelakuan aneh mereka Rechan, jadi kakak perempuan pirang yang kalian maksud itu Rechan ya hahahaha”
“Kalian membicarakan aku padanya ya!?”
“hehe” Plio tersenyum.
“Sudahlah, lagi pula kalian sedang menguntit kan, jadi jangan berisik, pura-pura makan saja, ku traktir ya” Crell menawarkan sambil tersenyum
“Eh tapi itu, Crell kau tak harus…” Rechan salah tingkah dengan kehadiran adik-adiknya yang merepotkan
“Tak apa, mumpung lagi mood”
“Ooooh Crell sama memang baik!!”
Crell memanggil pelayan dan memesan apa yang Plio dan Klio pesan. Saat itu, mereka diam dan menikmati pesanan mereka sambil sesekali mengamati tingkah oyaji menggoda ketiga istrinya. Sepertinya oyaji minum sangat banyak dan mabuk. Ia membuka rok pelayan perempuan dan menggodanya. Alioth memukulnya hingga hidung oyaji berdarah. Namun Oyaji yang mabuk malah mencium bibir Alioth sambil (Adegan yang tak baik tidak usah saya tuliskan karena akan membawa dampak buruk. Cerita tentang itu akan saya lewat sebagai sensor :3). Rechan dan yang lainnya merasa jijik dengan pemandangan itu, terlebih lagi oyaji yang sekarang tak sadar berkat hukuman Alioth, pingsan di dada Hallevie. Hallevie mendorongnya ke meja dan kepala oyaji membentur piring berisi makanan. Makanan berhamburan di meja dan para pelayan panik.
Mata Rechan berkaca-kaca karena malu karena kelakuan mereka dilihat Crell. Ia merasa putus asa, acara makan malam yang indah itu menjadi hancur gara-gara pemandangan itu. Diam-diam Crell memperhatikan Rechan yang berkaca-kaca. Plio dan Klio merasa bersalah menyeret Rechan dan Crell dalam situasi seperti itu.
“Rechan?” Crell mulai khawatir akan Rechan, tatapannya kosong menatap meja.
“Ah!” Rechan kaget dengan panggilan Crell
“Kau tidak apa-apa?”
“Ah, itu, anu, euh….”
“Tak apa, bisa dimaklumi, kau kan sering cerita tentang keluargamu yang aneh, jadi aku sudah mengira akan seperti ini jadinya” Crell tersenyum “Eh! Jangan nangis dong!” Crell, Plio, dan Klio panik melihat Rechan menangis dan meringkuk di meja. Jarang-jarang Rechan menangis. Crell memegang tangan rechan dan mengelus kepalanya.
Seketika Rechan mendongakkan kepalanya karena kaget “Eh, itu…” Rechan salah tingkah, mukanya benar-benar merah sekarang.
Plio berbisik pada Klio “Pst, sepertinya kita mengganggu, ayo pergi, kita pantau dari tempat lain saja”
“kau masih mau memantau mereka?”
“Lagi pula mereka sudah mau pergi kan lihat itu”
“Yah kita tunggu mereka di luar saja”
Plio dan Klio meminta ijin pamit keluar dan merapikan kursi mereka. Plio dan Klio beberapa kali menoleh pada Rechan dan Crell saat perjalanan menuju keluar. Plio menunduk, Klio tetap bermuka biasa seperti biasanya.
Di luar mereka mencari tempat bersembunyi yang aman, agar tak terlihat kalau oyaji dan ketiga istrinya keluar.
“Ada apa?”
Plio mendongak “Hm? Tidak, aku hanya kasihan pada Rechan” Plio berwajah menyesal sekarang. Tetapi sepertinya kali ini tak di buat-buat.
“Hm iya juga sih” Klio memandang pintu restaurant mengawasi kalau-kalau para orang tua keluar.
“Kita selalu mengacaukan hubungan Rechan. Kau lihat kan tadi dia menangis gara-gara tingkah makhluk menjijikkan yang menggelayuti ibu-ibu kita”
“Ya… Apakah putusnya hubungan Rechan dengan Nifhln juga karena kita ya?” Klio menatap sepatunya
“Sepertinya… Yah untung saja sekarang ia bersama Crell sama, dia laki-laki yang sangat baik sih”
“Tapi tetap saja kasihan kan, uuuuuuu Rechanku yang manis kan jadi menangiiis~” Plio menggelayuti tangan Klio
“Rechanmu? Rechan bukan punya mu lagi dia sudah jadi kakakmu, sainganmu Crell sama lho”
“EE!? Aku kan Cuma bercanda! Lagian siapa yang mau sama Rechan!”
“Dasar bodoh”
“Kenapa kau mengataiku bodoh~ aku kan mencintaimu Klioku cayaaank ahahaha muach“ Plio mencoba mencium Klio dan Klio menamparnya
“Jaga sikapmu! Dasar yaoi!”
“aaaaaaaaaaaa~ aku kan cuma bercanda~ jahat deh!~”
“Berisik!” Klio mulai sebal lagi dengan kelakuan Plio yang kumat “Kalau kau berisik nanti kedengaran mereka”
“Mereka?..... Oooh! Sudah kaluar sssssssst!”
“Kau yang diam” Klio kembali mamantau para orang tua. Oyaji masih saja tak sadarkan diri, Alioth menggendongnya di pundak seperti korban penculikan. Alioth terlihat santai membawa Oyaji di pundaknya walau agak jijik. Hallevie memegang tas oyaji dan Audrey tak boleh membawa apa-apa. Audrey yang fragile baru saja sampai tadi pagi, jadi tak boleh capek agar tak kumat (data selengkapnya tentang Audrey akan disampaikan di lain waktu :3). Kakak beradik kembar itu kembali mengendap membuntuti.
“Alioth, kau tak apa membawa dia? Berat kan” Hallevie cemas melihat suaminya yang menggelantung di bahu Alioth
“Hm? Mau bagaimana lagi~ memangnya kau mau, tepatnya kau kuat membawa ini (yang dimaksud ‘ini’ itu Oyaji :3)?” Alioth berkata santai, Audrey hanya mengamati oyaji dengan cemas
“Ah, hahahaha tidak kuat sih~ Eh Audrey, jangan cemaskan makhluk ini (Yang dia maksud oyaji :3), nanti kau capek sendiri”
“Eh anu, Alioth, kenapa kau tidak telefon anakmu dan menyuruhnya membawa Echan pulang dengan motor?”
“Hm? Benar juga sih sebentar aku akan telefon” Alioth menjatuhkan oyaji ke tanah dan mengambil hpnya. Seperti biasa Audrey kaget melihat Alioth menjatuhkan oyaji yang tak sadarkan diri ke tanah.
Sementara itu Plio dan Klio juga kaget melihat ibunya menjatuhkan Oyaji ke tanah setelah mengobrol. Mereka tidak bisa mendengar dengan jelas pembicaraan mereka. Tetapi Klio sedikit menengar “telefon anakmu” dan mulai curiga “Perasaanku tidak enak”
“Hm?” Plio masih serius mengamati Alioth yang mulai menekan tombol di hpnya. Mau menelfon siapa ya ibu?”
“Salah satu dari kita”
“Hieee!?”
“~ I wanna Kill you now yeah~ I love you but I still wanna kill you~(Ringtone hp Plio. Saya tidak bisa bahasa inggris tapi yah intinya sih itu :3)”
“UWAAAAAAAAAAA!!!!!!!!!!!!”
“Benarkan”
Alioth menoleh ke arah Plio dan Klio. Hallevie dan Audrey juga ikut menoleh dan kaget. “Di situ kalian rupanya, dasar penguntit!” Alioth membawa oyaji dan berjalan menghampiri anaknya
“Eh! Anu! Itu!” Plio tergagap dan gemetar
“Tak apa lah, kali ini kumaafkan. Untung kalian di sini” Alioth mengangkat oyaji dan menaruhnya di pundak Plio “Kau saja yang bawa Echan ke rumahnya, kami mau pergi” Alioth meninggalkan mereka
“Eh tunggu!! Mau kemana!? Berat nih!” Plio protes dan menyesal telah protes, melihat ibunya jadi bermuka sadis membuat bulu kuduknya berdiri
“Bersenang-senang~” Hallevie tertawa dan pergi menggandeng tangan Audrey dan Alioth
“Hari yang sial ya”
“Apa! ‘Kan aku yang membawa oyaji! Kenapa kau yang mengeluh!” Plio kesal lagi
“Suka suka”
“Sialan!”
Plio dan Klio akhirnya pulang dengan putus asa di malam natal yang sial. Oyaji mengigau dan meraba-raba Plio. Plio pun menbantingnya ke tanah. Akhirnya Klio yang membawa oyaji pulang. Tapi anehnya satl Klio yang menggendong oyaji, ia tak mernah mengigau… :3

Tidak ada komentar:

Posting Komentar