Rabu, 15 Desember 2010

“Makasih ya hari ini, semua berjalan lancar!” laki-laki yang tingginya standar dan pakaiannya standar itu tersenyum puas menatap orang yang ada di sebelahnya.
            “Ya, sama sama” seorang perempuan tersenyum kembali padanya yang tingginya tidak terlalu jauh itu. “Tapi habis ini kamu harus menjelaskan semuanya pada Kimi mengerti! Dan jangan lagi membuat plot di belakang kita!”
            “Ya” dibalasnya lagi dengan rasa senang telah berhasil membantu teman se kampusnya dan juga bertemu lagi dengan teman lamanya.

Potrait: Its Been A While.. 
ita stato un po '


WOLFWOOD POINT OF VIEW (1)

Nampaknya sudah tiga bulan aku merasakan keseharianku sebagai anak kuliah. Tidak terasa sudah setengah semester ku lewati. Akupun mengikuti ‘Entertainment Club’ atau yang sering di singkat ‘EC’, suatu club yang sering mengadakan teater atau kabaret, show kecil-kecilan, bahkan film-film pendek juga melakukan hal-hal yang cukup eccentric di seantaro MAU. Ya sebenernya semua anak MAU itu eccentric karena kita semua seniman, tapi bisa di katakan kita “one step ahead from being accentric” dari yang lain.
Pagi ini aku harus berhadapan dengan Buroosu sensei dan pelajaran Pengantar Teknologi Informasi (PTI) yang sangat menyebalkan! Kenapa aku bilang menyebalkan? Karena kumisnya itu sangat mengusik batin saat mencoba memperhatikan dia!!! Kalau saja kumisnya itu di pangkas pasti aku akan lebih focus memperhatikan apa yang dia ajarkan.
Setelah satu sesi bersama Buroosu sensei yang selesai sekitar jam duabelas siang(mulainya sekitar jam sepuluh pagi) aku menuju kantin dan makan siang. Masih di sekitar kampus aku bertemu dengan Sora teman se club ku yang anak Arsitek, rambutnya seperti lurus dan tajam yang memang alami, menggunakan kacamata, memakai kemeja, jeans hitam, membawa storage tube di pundaknya dan tas selempang yang mungkin isinya buku-buku mata kuliahnya. Rapih dan terlihat cool. Orangnya pun seperti penampilannya. Aku mengajaknya makan siang di kantin kampus dan dia bersedia menemaniku karena dia tidak ada jadwal kuliah lagi setelah ini.
“Sora, bagaimana dengan skrip film kita ?” aku penasaran akan tema film yang akan kita buat untuk di tampilkan di suatu festival short film tahun ini.
“Aku sedang buntu kawan, tema untuk tahun ini cukup menantang menurutku, ‘people and there activities’! aku ingin menceritakan tentang seseorang dan activitas yang di lakukannya setiap hari, tapi aku ingin aktivitas itu yang cukup aneh untuk di jadikan sudut pandang” dia menjawab sambil memperlihatkan coretan-coretan ide, setting, list tempat-tempat yang jarang di datangi oleh turis dan tempat-tempat yang padat pengunjung. Dari situ sangat terlihat kalau dia sang ‘Script writer’ benar-benar ingin membuat skrip yang mengejutkan.
Tiba-tiba datang seseorang yang duduk di hadapanku yang sekaligus duduk di sebelah Sora. “Aku punya ide, bagaimana kalau kau membuat cerita tentang seseorang yang ingin membuat kembang api terindah di seluruh Jepang? Alasan utama dia ingin membuatnya karena adiknya yang sangat suka kembang api dan dia ingin membuat adiknya senang. Oh iya, adiknya terlihat ceria di luar tapi adiknya ini sebenernya hampa karena ibunya yang meninggal akibat kecelakaan, hmm.. kebakaran mungkin ?” berhenti berbicara lalu ‘menyuruput’ miso ramen ebinya yang pedas. Dia adalah Haru, menurutku dialah yang paling ‘FREAK!’ di antara semua anak  EC. Dia mahasiswa ‘Space Plannig Design/Lightning Design’ mereka focus pada penampilan ruangan, tata letak juga penerangan pada exhibition atau showroom. Penampilannya pun menjelaskan sifat orangnya sendiri. Rambutnya acak-acakan, dia menggunakan kaos dan jacket lalu celana jeans berwarna biru, membawa tas ransel yang isinya kabel-kabel yang sedikit keluar. Mungkin dia buru-buru. Dia suka tiba-tiba menghilang selama beberapa hari dan kembali lagi secara tiba-tiba, ide-idenya brilliant, tapi tak ada yang mengerti pola pikirnya.
“Hmmm..” Sora yang mempertimbangkan ide Haru tadi “Bisa, itu cukup bagus, kita bias menunjukkan prose’s dia membuat kembang apinya, dan aku bisa meracik cerita tentang ibunya yang meninggal karena kecelakaan itu” Sambil menuliskan beberapa point-point penting yang akan di masukkan ke dalam skrip.
“MEEEEEEEEIIIIIIIIIIIIIIIII” Suara yang melengking terdengar agak jauh dari meja kita. Di sana terlihat Haruka, bukan.. bukan saudara kembarnya Haru mentang-mentang namanya mirip, tapi kebetulan saja mirip, bedanya Haruka adalah seorang cewe yang cerewet, sarkastik, ceria dan expresif. Diapun salah satu anggota EC yang cukup modis sebagai seorang perempuan, tentu saja salah satu faktornya karena dia adalah murid Fashion Design. Berambut panjang sampai ke bahu, berwarna coklat kemerahan alami dan agak bergelombang, . . .  . . . . . . . .”Mentang-mentang kita satu club dan satu departemen walau beda bidang teman se kelasmu menyuruhku memberikan bukumu ini yang lagi-lagi kau tinggalkan di dalam kelas! Bukumu cukup berat kau tau!”
“Justru karena berat aku meninggalkannya di kelas, toh tidak akan ada yang mengambilnya bukan? Dan jangan panggil aku Mei!” Haruka memanggil Haru dengan sebutan Mei dari Haru Meitetsu, 3 huruf awal nama keluarganya. Haruka memanggilnya Mei karena tidak ingin tertukar namanya dengan Haru saat di panggil di club.
“Kau terlalu ceroboh kau tau!” Haruka menunjukkan ekspresi kesalnya.
“Tidak ada yang terganggu atas kecerobohanku kecuali kau Haruka” Haru yang tidak tidak peduli akan omelan Haruka.
“Kalau kau tidak merubah sifat cerobohmu itu kau tidak akan pernah mengajak seorang perempuan jalan bersamamu!”
“Oke itu keterlaluan, aku bisa menunjukkannya kepadamu kalau itu tidak benar! Aku bisa kapan saja mengajak siapapun yang aku mau! ”
“Begitukah? Aku tantang kau di festival jazz minggu depan untuk mengajak seorang perempuan datang bersamamu!”
“Hahahahaha!! Akanku buktikan padamu satu minggu lagi! Jika tidak aku akan melakukan apa saja yang kau mau, sebutkan”
“Aku ingin kau memakai kostum monyet saat itu tidak terjadi”
“Itu saja?” Haru yanag merasa kostum moyet tidak akan membuatnya malu karena dia sudah biasa akan hal yang sedikit eccentric itu.
“Sambil bergelantungan di gerbang depan MAU” Haruka tersenyum sinis tanda kemenangan yang mutlak. Aku sendiri sempat berfikir kalau hal itu akan sangat memalukan, terutama kalau bergelantungan di gerbang MAU yang terkenal akan bentuknya yang sangat sederhana namun artistic dan penuh arti.
“Deal” Haru yang terlihat cukup optimis membalasnya dengan senyum yang mengartikan dia tidak takut akan gertakan Haruka, menurutku pribadi gertakan itu cukup mencuitkan batin.


to be continued..
eve essere continuata..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar