WOLFWOOD POINT OF VIEW (2)
Setelah adu mulut yang cukup singkat antara Haru dan Haruka, Harukapun pergi meninggalkan kantin dan membiarkan kita melanjutkan makan siang. Biasanya dia akan bergabung bersama kita, tapi kali ini dia tidak mau karena sudah terlalu kesal dengan Haru. Haru sendiri hanya melanjutkan memakan ramennya seperti tidak terjadi apa-apa barusan. Akupun cuek saja melanjutkan makan siangku yang sudah mulai dingin akibat di tunda adu mulut yang terjadi barusan.
Tidak lama setelah itu Haru telah menghabiskan ramennya. Ia meneguk kuah ramennya langsung dari mangkok dan menghentakkan mangkoknya ke meja cukup keras, membuatku dan Sora kaget. “Baiklah, kalian harus menemaniku sore ini!” pernyataan yang sangat membingungkan. Aku dan Sora hanya bisa terdiam menatapnya. “Kalian terlihat bingung sekali, kalian harus menemaniku hunting cewek sore ini!”
“HGGGGHH!!! Ohok.. ohok..” aku kaget sampai-sampai aku tersedak. Sungguh unexpected kata-kata yang barusan di lontarkan Haru. “Jadi kamu ohok.. serius? Aku punya jam kuliah sore kau tahu”
“Ayolah Wolfwood, jam kuliahmu jam lima bukan? Sekarang baru jam dua kawan, Sora kau pasti mau menemani temanmu ini bukan?” Sora memang terkenal akan ‘Ladies Men’nya. Tampangnya yang cool itu sering membuatnya di kerubuni oleh cewk-cewek yang jatuh padanya bagaikan raja minyak dari Arab.
“Menemani sih boleh saja, aku tidak ada jam kuliah lagi” Sora yang dengan begitu saja rela menemani teman aneh satu itu.
“Aku pass, aku benar-benar nggak mau terlibat dalam hal ini” Jawabanku. Baru saja aku mau menyuap makan siangku yang masih tersisa sedikit lagi tiba-tiba Haru mengangkatku dan menggeretku pergi dari makan siangku, dari meja yang kita pakai untuk makan siang, dari kantin. “Baiklah baiklah, aku temenin, tapi kamu harus gantiin makan siangku yang ga habis tadi”
“Kalau semuanya berjalan lancar kawan” Haru dengan tampang kemenangan telah berhasil menggajakku walau secara paksa melepaskanku dari genggaman tangannya yang dari tadi menggeretku seperti tas berisi bola basket yang akan di dribble dan di shot ke sana ke mari.
Sebenarnya aku tahu alasan dia menggajakku. Dia hanya akan memanfaatkan jasa transportasi dan agar terlihat keren. Kenapa? Karena aku membawa mobil Mustang GT 2008 berwarna biru dongker yang ku temukan sekitar dua bulan yang lalu di garasi rumah tergeletak tidak pernah di pakai. Sesampainya di parkiran mobil aku membuka kunci mobil lewat tombol dari remote yang terdapat di kunci mobil. Haru yang sangat tidak ingin repot hanya loncat dan duduk di kursi samping kursi supir, dia selalu mengabaikan pintu mobilku mentang-mentang mobilku topless. Sora yang terpaksa duduk di belakang setidaknya tetap masuk dengan cara yang benar. Membuka lalu menutup pintu mobilnya. Tak peduli aku menyalakan mesin mobil dan menjalankannya keluar dari parkiran. Setelah melewati gerbang kampus aku pun bertanya “Mau kemana?”
“Shibuya tentunya kawan” Haru mengatakannya dengan sangat santai dan menggambil kacamata hitam Ray-Banku yang ada di lemari mobil dan memakainya. Aku tidak keberatan.
“Haru, kalau kau mencari cewek-cewek nggak jelas di Shibuya terlihat kalau kau itu desperate. Sama saja artinya kau kalah taruhan dengan Haruka. Menurutku setidaknya kau harus mencari cewek yang intelek dan tentu saja cantik, agar kau bisa menang telak” Sora memberikan pendapat yang sangat bagus, dan apa yang di katanyanya cukup benar menurutku sendiri.
“Begitukah ? kalau begitu kita ke TODAI! Di sana banyak cewek intelek bukan”
Aku sekali lagi sempet di kagetkan oleh Haru, kaget di sini kaget dalam artian ‘GUBRAK’ agak tergoyah tanganku saat itu jadi loss dari setir sehingga moilpun goyah sesaat. “Kenapa harus TODAI? Intelek sih iya, tapi apa ga terlalu.. terlalu intelek?” susah memang menjelaskan kepada Haru.
Sorapun Nampak bingung bagaimana menjelaskannya kepada Haru. “Kau itu tidak mengerti atau sengaja sih sebenernya?”
“Sudahlah, jangan banyak komentar. Mengarahlah ke todai” Haru sangat tidak dapat dimengerti. Tidak ada yang bisa dilakukan selain mengikuti apa yang Haru inginkan, kata-katanya terasa mutlak. Terpaksa aku mengarahkan mobil ke arah TODAI Tokyo Daigaku atau Tokyo University, universitas nomer satu di di jepang dan juga nomer satu di asia.
Sesampainya di TODAI aku memarkirkan mobil di depan gerbang merah kebanggaan TODAI, aku menyuruh Haru untuk berkeliling tapi dia tidak mau. Dia bilang dia tidak mau capek berjalan ke sini ke mari mengelilingi TODAI yang luas. Cukup dengan ‘mejeng’ di depan TODAI dengan mobil yang mewah, memakai kacamata Ray-Ban dan berlagak cool pun pasti membuatan para wanita penasaran katanya. Aku mengajak Sora berkeliling dan membiarkan Haru ‘mejeng’ di sana sendiri. Tapi ternyata Haru tidak memperbolehkan Sora untuk pergi. Sora harus tetap bersamanya agar terlihat makin cool dan kalau ada yang penasaran, Haru tidak sendirian untuk meladeni mereka yang terkait bukan seperti yang di harapkannya.
Akhirnya akupun berkeliling sendirian. Entah kenapa aku memutuskan mengelilingi kampus TODAI, mungkin untuk meihat sisi seni dari seantaro kampus itu atau hanya untung-untungan bertemu dengan Grale. Grale sendiri pernah mengatakan padaku kalau dia sedang tidak di MAU berarti di TODAI membantu dosennya dulu atau mungkin praktek di suatu rumah sakit.
Semakin aku mengelilingi kampus itu semakin aku merasa bosan, tidak ada sesuatu yang menarik untuk kulakukan. Aku berpikir ini akan membuang cukup banyak waktu kalau Haru cukup keras kepala untuk tidak pulang sampai dia berhasil menemukan mangsanya. Kulihat handphoneku dan terlihat jam yang menyatakan pukul tiga lewat lima belas menit. Aku sangat berharap Haru cepat menelfon untuk membawanya pulang dari TODAI. Terbesit pikiran kalau jam empat lebih dua puluh menit dia tidak menelponku aku akan memaksanya pulang agar kelasku yang mulai jam lima sore itu terkejar.
Aku bisa melihat salah satu taman umum kecil yang mungkin sebenarnya ada banyak di suatu kampus. Ada beberapa siswa di taman itu. Sedang membaca, sekelompok siswa yang terlihat ngobrol, ngemil bahkan memainkan Playstation Prortablenya. Tipikal taman yang ada di di kampus manapun.
Saat aku memutuskan untuk duduk di bawah pohon yang ada di taman itu, aku melihat sosok seseorang yang agak samar. Aku focus pada orang itu dan otakku mulai berpikir siapa sebenarnya orang itu. Dia seorang perempuan, rambutnya tidak terlalu panjang di bawah pundanhnya sedikit. Warnanya hitam dan gelombang tapi mendekati lurus. Penampilannya sangat casual, biasa saja penampilannya itu, dan muka itu.. tidak salah lagi, aku mengenalinya. Sangat mengenalinya.
Aku berjalan mendekat perlahan Dia sedang membicarakan sesuatu dengan temannya, tapi Nampak tidak apa-apa kalau aku menyela dengan sekedar mengatakan “hai” lalu aku bisa pergi lagi agar pembicaraan dengan temannya tidak terganggu. Sekarang perbedaan jarak kita hanya beberapa meter, cukup dekat tapi tidak terlalu jauh pula. Ini jarak yang cukup untuk memulai pembicaraan saat lawan bicara tidak menyadari keberadaan kita. Akhirnya akupun menyapanya dengan casual. “yoo..”
to be continued..
eve essere continuata..
hmmmm xly
BalasHapus