Kamis, 30 Desember 2010

Yeah (judul yang aneh, aku bingung mau kasih judul apa)

“Mamaaaaaaa!!” Lene berlari dan memeluk kaki Alioth yang sedang memasak makan siang.
“Ada apa?” Alioth mengelus kepala Lene
“Kakak nakal!”
“Hmmm, ya nanti mama pukul” Alioth meneruskan memasak. Plio yang mendengarnya berteriak dan mencoba merayu Lene dengan permen namun tidak berhasil.
Siang itu begitu terik. Bahkan Rechan yang begitu rajinpun tertidur di sofa. Plio dan Klio tertidur di karpet di depan tv dan Lene dan Lena menumpakinya. Hanya Alioth yang masih bertahan. Ia mandi dengan air dingin dan memaksa Lene-Lena juga mandi dengan air dingin. Plio dan Klio yang tak bisa dibangunkan ia siram dengan air es. Rechan baru saja mandi dan Alioth tidak membangunkannya.
“Curang! Kenapa Rechan tidak dibangunkan juga!?”
“Dia sudah mandi, dia juga sudah bekerja keras, tidak seperti kalian, hanya bermalas-malasan! Tidak berguna!”
“Uwaaa! Jangan bilang begitu bu!”
“Ibu menyesal melahirkan kami?” Klio berkata dengan kalem
“Lumayan”
“HEEE!? Lumayan itu jawaban yang sulit di definisikan!”
“Memangnya bagaimana ibu melahirkan kami?” Klio menatap Alioth dangan tajam
“Tidak sopan!”
“Aku hanya ingin tau, kau mewarisi tatapan ini”
“Hmmm, hari yang berat” Alioth membayangkan masa lalunya
“Ceritakan! Ceritakan!” Lene Lena ikut-ikutan sambil melompat-lompat”
“Hari itu, hm, kalian duduk bisa tidak!”
“Eee? Baiik”

***

Mobil-mobil berseliweran tanpa perasaan. Nenek yang menyebrangpun tak mereka pedulikan. Sepertinya tak ada harapan untuk menumpang. Ia sudah putus asa menyetop mobil di jalan. Sebesar apapun ia berharap ada yang berhenti, itu tak berguna. Ia berlari kembali ke rumahnya dan mengambil motor dengan seluruh tenanganya yang tersisa. Sialnya, motor itu terlalu berat untuknya sekarang.
“A!! Alioth san!!” Seorang anak berlari menuju Alioth dan menghampirinya
“Ah! Grale! Bisakah kau...” Ia tidak jadi melanjutkan kalimatnya “Tidak jadi” Alioth melihat Grale yang kebingungan. Lagipula apa yang bisa anak umur sembilan tahun perbuat untuk membantunya ke rumah sakit sekarang?
“Kau mau melahirkan!?” Grale terbelalak “Tapi kenapa tidak pakai taxi!?”
“Tidak ada yang berhenti, minggir, aku sudah mau melahirkan” Ia membawa motor ke tepi jalan
“Jangaan!! Kau bisa kecelakaan!” Grale menarik baju Alioth
“Dari pada aku melahirkan di sini!”
“Aku akan telfon Ibu! Berikan kunci rumahnya!” Grale mengambil kunci rumah Alioth dan menuju telefon
            Alioth tidak tahu lagi apa yang harus ia lakukan. Benar kata anak itu, ia tak akan sampai ke rumah sakit dengan motor itu, lagi pula tak akan ada yang menolongnya. Ia membayangkan kalau ia akan melahirkan di sini. Tidak, ia tidak akan melahirkan di sini! Ia bisa menahannya. Ia meneguhkan hatinya dan berfikir betapa banyak pengalaman yang lebih berat.
            “Kalau hanya ini, ugh!” Alioth memegang perutnya dan mengerang “Cih! Sial! Kalian bersabar sedikit dong!” Dengan tiba-tiba sakit itu hilang beberapa menit “Waw, aku tidak menyangka akan menurut, aneh sekali~”
            “Ibu datang!” Grale berlari keluar menyambut Hallevie. Alioth hanya melongok sambil memegang perutnya
“ASTAGA!!!” Hallevie berlari menuju Alioth
“Kau kemari pakai apa hah? Cepat sekali”
“Tak penting! Ah, ah!” Ia mencari sesuatu “Oooh!!”
“Ngapain sih” Alioth kembali memegang perutnya. “Hei!”
“Ayo cepat! Nanti ketubannya pecah!” Ia menyuruh Grale menaikkannya ke motor
“K..kau yang” Alioth tampak ragu
“Tentu saja! Cepat naik, kita akan ngebut”
Grale mebantu Alioth naik motor. Hallevie menyalakan mesin dan melaju dengan sangat ngebut. Asap yang mengepul membuat Grale batuk-batuk. “Astaga, kenapa semua istri ayahku ini gila ya...” Ia diam mencerna suasana “Eee! Lalu aku harus berbuat apa!?” Ia melihat kunci rumah Alioth.

***

“Dokter! Ada yang mau melahirkan!!” Hallevie menuntun Alioth, ia meneriaki suster karena panik
“Bu! Ruangan habis!”
“APA!? BODOH! KALIAN BODOH!!” Hallevie menunjuk muka suster yang kaget
“Su.. sudahlah Hallevie, kita, Agh! Kita ke rumah sakit lain saj..” Alioth mengerang
Suster lain berlari menuju mereka dan berteriak “Ada ruangan! Cepat!”
Alioth dibawa ke ruangan itu dan Hallevie mengikutinya. “Tunggu! Alioth aku akan mengurus sesuatu, kau bisa melahirkan sendiri kan?”
“Bicara apa kau? Suster akan membantuku”
“Berusahalah!” Hallevie berlari menuju arah yang berlawanan. Ia mencari suster lain yang tadi mengurus ruangan. Ia bertanya, ruang apa yang mereka sediakan untuk Alioth
“Anu, karena tadi ibu terus berteriak, kami berusaha mencari ruang apa saja, dan kami hanya dapat ruang itu, kami menginformasikan ruang pertama yang kami lihta kosong” Suster itu terlihat gugup
“R..ruang apa!? Jangan menakut-nakuti! Ini menyangkut nyawa kau tau!”
“R.. ruang super VVIP” Suster itu terlihat bingung sekarang
“Fiuuh~” Hallevie bernafas lega dan berlari menuju Alioth lagi. Namun dalam perjalanannya menuju ruangan yang tadi suster informasikan, ia menyadari sesuatu “ Super VVIP!!?”

***

Seseorang berlari dengan terburu-buru. Ia menyelinap diantara orang sakit dan terkadang hampir jatuh tersandung suster yang berjalan. Ia berhenti karena ragu apakah itu ruangan yang benar, namun setelah ia mendengar tangisan bayi, ia yakin kalau itu ruangan yang benar. Ia membuka pintu dan melihat seorang wanita menggendong dua bayi.
“Alioth!!”
“Bodoh” Hallevie mengepalkan tangannya
“Eeeh!?”
“Kenapa kau baru datang hah!”
“Eee, aku”
“Tapi aku bersyukur” Alioth melihat suaminya yang terengah dan berantakan
“Bersyukur karena aku datang !? oooh!!” Echan berputar-putar
“Bukan, aku bersyukur anakku tidak mirip kau”
“Hiee!?”
Hallevie tertawa, Alioth mencium kening anaknya. Ia sangat senang anaknya kembar dan dua-duanya laki-laki. Ia berharap mereka akan menjadi anak yang penurut dan tidak menyusahkan. Echan menyentuh bayi-bayi itu, dan seketika mereka menangis dengan kencang
“Ara, mereka tidak menyukaimu hahaha” Hallevie tertawa
“Jangan sentuh!”
“Ooh! Kalau menangis seperti ini, hihihi” Wajah Echan memerah dan dari hidungnya keluar darah
“Alioth, apa aku harus harus mengusirnya?”
“Usir saja” Alioth menatap Echan yang sedang berpikiran mesum
“Apa yang kau pikirkan?” Hallevie menatap Echan dengan tajam
“Aku? Aku ingin melihat... Ah! Maksudku, kalau mereka menangis kan... Ah maksudku, Alioth harus menyusui mereka, ah!”
“K.. Kau! KELUAAAAR!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!”
“HIEEEE!?”

***

Ruangan itu hening, Plio bengong dengan mulut terbuka, Kliomalah mengantuk, Lene dan Lena diam tak mengerti.
“Kalian ini mau dengar cerita tidak sih!?” Alioth mulai berasap
“Hieee!? Mau!”
“Jadi saat ibu melahirkan kami menyusahkan sekali ya” Klio mulai menghilangkan rasa ngantuknka dengan menampar pipinya sendiri
“Hmm, yah kalian tidak sabar keluar sih, tapi itu sudah berlalu. Aku tak pernah membayangkan kalian akan tumbuh seperti ini”
Plio dan Klio hanya diam. Rechan terbangun dan kaget menyadari ia telah tertidur. Ia meminta maaf pada Alioth karena telah tertidur. Bagaimanapun Alioth memaafkannya, Rechan tetap meminta maaf.
“Anu, Rechan” Ucap Plio
“Apa?”
“Kau imut”
“HIEEEE!!??”
Sebenarnya bukan itu yang ingin Plio katakan, ia hanya ingin bertanya bagaimana saat Rechan dilahirkan. Namun ia lupa, kalau Rechan tak pernah tau, siapa yang melahirkannya. Ia pasti tidak tahu, bagaimana ia dilahirkan.

Jumat, 24 Desember 2010

Christmast Night


Salju yang pekat menaburi jalanan dengan remangnya, lampu jalanan yang menghiasi jalanan menambah harmoni jingga jalanan. Satu-persatu salju itu jatuh menimpa jalanan yang tak kunjung berhenti ditapaki manusia. Kucing-kucing yang meringkuk mulai pindah ke tempat yang lebih hangat.
Gadis-gadis kecil yang membawa keranjang roti berlarian dan tertawa-tawa bahagia. Musisi jalanan yang biasanya muram tersenyum dan berbagi dengan nyanyiannya.
Namun kebahagiaan itu tak selamanya dirasakan keluarga yang sedang tegang “bermain”. Mereka mengendap, saling menginjak dan memaki dalam diam.
“Sst! Nanti ketahuan bodoh!” Klio menjitak Plio dengan kesal
“Jangan injak kakiku dong!” Plio berbisik dan lari mengikuti Klio
“Sial! Mereka masuk ke sana! Oh ayolah!” Klio mulai jengkel. Mengikuti tiga orang tua memang sulit, apalagi di malam natal yang penuh orang bersenang-senang.
“Berdoa saja restaurant itu penuh jadi mereka ke tempat lain yang lebih sepi”
“Bodoh! Kalau di tempat sepi nanti malah ketahuan! Apalagi sama ibu, lagi pula dari jarak segini pun mungkin sekarang ibu sudah tau kita membuntuti mereka!” 
Karena Mereka terus berselisih, dan kedua adik kembarnya yang tak tahu apa-apa jadi terabaikan, Plio dan Klio memutuskan untuk menitipkan Lene dan Lena di tempat penitipan bayi yang baru saja mereka lewati. Lagi pula mereka akan lebih bahagia di sana dibandingkan dengan mengendap mengikuti langkah kakak-kakaknya yang cepat.
Kalau bisa dibilang, memang Plio dan Klio terkesan jahat pada adik-adiknya, tapi itu lebih baik dari pada mimpi buruk yang mungkin terjadi bila anak sekecil Lene dan Lena melihat hal tidak senonoh yang dilakukan ayahnya di malam natal. 
Semua berawal dari rumah mereka. Oyaji yang tiba-tiba datang sedang merangkul bahu Audrey dan Hallevie mengajak Alioth ikut bersama mereka. Dan yang lebih aneh, Alioth menerima tawaran itu "Sekali-kali" Ia bilang. Plio dan Klio yang curiga menguping pembicaraan para orang tua dengan penasaran.
"Tapi hanya sekali-sekali, kalau kau bertindak aneh-aneh seperti tahun lalu, aku benar-benar akan membunuhmu" Alioth menghirup tehnya.
"Te.. tenang saja sayangku~ Kita akan bersenang-senang dan tak ada kekacauan~" Kalau Echan yang berkata begitu terdengar tidak meyakinkan
"Aku tidak yakin, tapi kita bertiga, dia hanya sendiri. Aku yakin kita akan bisa mengatasinya." Hallevie tersenyum nakal
"Kalau Audrey tiba-tiba pingsan bagaimana? Dia baru saja datang kan" Alioth menatap Audrey
"E..Eh? Anu Tidak apa-apa" Audrey menjadi salah tingkah
"Hm, baiklah. Tapi, semua biaya kau yang tanggung, semua kerugian, kerusakan, sanksi, hukuman, kau yang tanggung" Alioth menunjuk Echan tepat di wajahnya
"Ee!? Ba.. Baiklah," Echan mulai merinding
"Semua biaya kendaraan, tanaga kerja, kekejaman, pembunuhan, pelampiasan dendam,..."
"Eee? kok jadi begitu? hahaha" Hallevie tertawa sambil menyingkirkan tangan Echan yang mulai meraba kemana-mana
"Hm, berjalan bersama 'itu' (Echan) memliki banyak resiko jiwa kau tahu, terlebih lagi, aku harus meninggalkan anak-anakku"
"Sudahlah Alioth, Plio dan Klio kan sudah besar, aku yakin mereka bisa menjaga Lene dan Lena. Lagi pula ada Rechan kan" Audrey yang mulai tampak khawatir dengan pembicaraan aneh ini mulai ambil bagian.
"Rechan pergi bersama temannya. Yah aku memang harus mengandalkan anak kembarku itu. Kalau begitu aku ganti baju dulu" Alioth pergi ke kamarnya dan memergoki Plio dan Klio yang menguping. Untungnya Alioth membutuhkan mereka, tidak akan menyenangkan kalau menyuruh setelah memarahi habis-habisan kan~ (ngomong apa sih aku,, lupakan saja ya :3)
Akhirnya malam itu, setelah mereka bertiga pergi, Plio dan Klio memutuskan untuk membuntuti para orang tua. Akan lebih baik dari pada dititipkan di rumah Grale si galau itu dan Wolfwood si rese itu. Mereka lebih senang dari pada harus berdiam diri di rumah sambil membawakan lagu nina bobo untuk Lene dan Lena. Yah walau begitu pada akhirnya Lene dan Lena dititipkan juga.
“Kalau begitu kecilkan suaramu” Klio tambah sebal. Ia menunggu dan menunggu.
“Ck! Aku mau masuk!” Plio mulai melangkahkan kakinya ke dalam restaurant. Namun Klio menariknya kembali
“Bodoh! Kau mau menggagalkan rencana kita hah!? Diam di sini dan tunggu!”
“Makan di rentaurant itu lama klio! Kita harus masuk kalau ingin tau apa yang dilakukan oyaji dengan para istrinya ‘kan!” Plio sangat kesal dengan permainan ini. “aku mau pulang”
“Aaaagh! Kau ini maunya apa sih!?” Klio kehabisan akal untuk menghadapi kembaranya yang menyebalkan.
“Masuk saja lah! Tak ada gunanya kita menunggu di luar kan!”
“SSST! Pelankan suaramu!” Klio menghela nafas. “Baik kita masuk, kau duluan”
“Kau kan yang puny ide, lagi pula ladies first”
“MEMANGNYA AKU PEREMPUAN APA!!?” Plio tak sabar lagi
“Ya sudah kalau laki-laki itu tak banyak omong, cepat masuk!”
“Cih sial!” Plio pun masuk dan memeriksa keadaan. “Aman” Klio pun masuk.
Mereka memeriksa kadaan lagi dan mulai mengendap mencari para orang tua mereka. Tak lama mereka di dalam restaurant besar itu, seseorang menepuk pundak mereka. Mereka hendak berteriak tapi takut mengganggu orang-orang di sana. Plio dan Klio pun menoleh dengan gugup dan berharap orang lain yang menepuk pundaknya.
“Ngapain kalian di sini?”
“RECHAN!!?” Plio dan Klio kaget
“Anu kami, kami euh” Plio bingung mau bicara apa
“Di sana ada ibu dan yang lain lo” Rechan tersenyum polos
“Apa!?” Klio menarik tangan Rechan dan membawanya menjauh
“Hei! Kenapa sih kalian ini!? Rechan melepas tangan Klio
“Kami sedang membuntuti mereka!” Plio semangat lagi
Rechan mengerutkan alis. “Untuk apa?”
“Kami hanya curiga, sebenarnya mereka mau ke mana, lagi pula tadi Oyaji bilang bersenang-senang ‘kan, bersenang-senang ala oyaji itu mencurigakan!” Plio memegang tangan Rechan dan Rechan melepaskanya
“Apaan sih kalian ini! Nanti kalau kelahatan dia gimana!”
Plio dan Klio saling tatap “dia?”
Muka Rechan memerah “ Lupakan”
“Aaaaaaaaaaaaaaaaa Aaaaaaaaaaaaaaaa~” Plio memicingkan mata
“Apaan sih!? Jangan mengeluarkan bunyi-bunyi aneh dong! Mengganggu yang sedang makan tau!” Muka Rechan memerah lagi
“Itu sensor orang yang lagi jatuh cinta tau!” Plio tersenyum nakal, Klio dan Rechan menjauh selangkah
“Sudah ah! Aku mau kembali” Rechan membalikkan badan tapi Klio memegang tangannya. “Hei!”
“Kau bilang tadi ada ibu dan yang lainnya ‘kan? Berarti kau melihatnya ‘kan”
“Eh? Iya memang kenapa? Lagian kalian mengikuti mereka ‘kan? Apa ada hubungannya dengan aku juga melihat mereka? Sudah ah kalian menyebalkan!”
“Bawa kami ke tampatmu tadi!”
“Ap.. TIDAK!”
“Kenapa?” Plio menyangga dagu rechan dengan tanggannya
Muka Rechan merah “JANGAN DEKAT-DEKAT!!” Rechan menendang dagu Plio dengan lututnya dan membuat Plio kesakitan
“Oi! Sakit! Aku kan cuma bercanda!” Plio mengelus-elus dagunya yang sakit
“Wajahmu jelek tau!”
“Kamu makan di sini?” Klio bertanya pada rechan menghentikan topik aneh Plio
“E… anu.. iya”
“Boleh kami duduk bersamamu?” Klio frontal saja toh tak ada waktu untuk basa basi
“E!? Itu… yah boleh lah…” Rechan menghela nafas “Tapi kalian harus berjanji!”
“Berjaji?” Plio berwajah bodoh
“Ya, kalian tidak boleh mengacau!”
“Siap!!!”
“Hhh~” Baiklah lewat sini
Rechan menuntun mereka ke mejanya. Melewati orang-orang yang berbincang, melewati orang-orang yang berbahagia di malam natal, melewati lilin-lilin yang menghiasi meja-meja couple. Sampailah mereka pada tempat Rechan. Di sana telah menunggu laki-laki dengan kemeja putih, memakai celana jeans biru dongker, rambutnya coklat pekat bergelombang, dipotong pendek dan rapi. Ia tersenyum pada Rechan dan yang lainya. Tangannya terletak di meja dan meminta pelayan untuk kursi tambahan. Rechan dengan malu duduk, Klio dan Plio duduk di sisi kanan dan kiri rechan dan laki-laki itu.
“Anu, sepertinya kita pernah bertemu” Klio memangdang laki-laki itu dengan tatapan tajam.
“APA!?” Rechan sangat kaget dengan pernyataan Klio “T..tidak mungkin! Tidak mungkin kalian pernah bertemu dia!”
“AH! Crell sama!” Plio baru ingat
“Ahaha kalian yang waktu itu ya, pantas saja familiar” Crell tersenyum
”U..uso! Lagi pula kenapa kalian memanggilnya dengan Crell ‘sama’!?”
“Dia dewa”
“He!?” Rechan menaikkan sebelah alisnya
“Pokoknya dewa” Plio ngotot
“Hmm, kenapa kalian bisa bersama Rechan? Aku kaget lo bertemu kalian di sini, kalian pacar Rechan?”
“APA!? BUKAN!” Rechan kesal
“Eh? Bukan yah ahaha maaf deh aku kan tidak tahu, lalu mereka ini…”
“Mereka… Adikku” lalu Rechan berkata dalam hati “Sial!!!!! AAAAARG! Kenapa harus ada mereka!?”
“O haha maafkan aku, aku kira siapa” Crell tersenyum lagi
Klio mencari-cari seseorang yang tersembunyi “Itu dia”. Plio menoleh pada arah yang ditunjukkan Klio ”EE!?”
“apa sih?” Rechan melihat apa yang Plio lihat
“Itu, ibu dan yang lain, memang terlihat dari sini, makanya aku menyuruh rechan membawa kita kemari agar lebih mudah memantau mereka”
“Ooh!” Plio terkesan
“Kalian sedang membuntuti mereka ya? Kalau begitu jangan berisik” Ucap Crell
“Eh anu…. Itu maaf kelakuan mereka memang aneh tidak udah di pedulikan ya hahaha” Rechan memerah lagi
“Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaa~”
“KUBILANG JANGAN..”
“ssssst nanti ketahuan!”
Rechan menggeram. “Tak apa kok, aku sudah tau kelakuan aneh mereka Rechan, jadi kakak perempuan pirang yang kalian maksud itu Rechan ya hahahaha”
“Kalian membicarakan aku padanya ya!?”
“hehe” Plio tersenyum.
“Sudahlah, lagi pula kalian sedang menguntit kan, jadi jangan berisik, pura-pura makan saja, ku traktir ya” Crell menawarkan sambil tersenyum
“Eh tapi itu, Crell kau tak harus…” Rechan salah tingkah dengan kehadiran adik-adiknya yang merepotkan
“Tak apa, mumpung lagi mood”
“Ooooh Crell sama memang baik!!”
Crell memanggil pelayan dan memesan apa yang Plio dan Klio pesan. Saat itu, mereka diam dan menikmati pesanan mereka sambil sesekali mengamati tingkah oyaji menggoda ketiga istrinya. Sepertinya oyaji minum sangat banyak dan mabuk. Ia membuka rok pelayan perempuan dan menggodanya. Alioth memukulnya hingga hidung oyaji berdarah. Namun Oyaji yang mabuk malah mencium bibir Alioth sambil (Adegan yang tak baik tidak usah saya tuliskan karena akan membawa dampak buruk. Cerita tentang itu akan saya lewat sebagai sensor :3). Rechan dan yang lainnya merasa jijik dengan pemandangan itu, terlebih lagi oyaji yang sekarang tak sadar berkat hukuman Alioth, pingsan di dada Hallevie. Hallevie mendorongnya ke meja dan kepala oyaji membentur piring berisi makanan. Makanan berhamburan di meja dan para pelayan panik.
Mata Rechan berkaca-kaca karena malu karena kelakuan mereka dilihat Crell. Ia merasa putus asa, acara makan malam yang indah itu menjadi hancur gara-gara pemandangan itu. Diam-diam Crell memperhatikan Rechan yang berkaca-kaca. Plio dan Klio merasa bersalah menyeret Rechan dan Crell dalam situasi seperti itu.
“Rechan?” Crell mulai khawatir akan Rechan, tatapannya kosong menatap meja.
“Ah!” Rechan kaget dengan panggilan Crell
“Kau tidak apa-apa?”
“Ah, itu, anu, euh….”
“Tak apa, bisa dimaklumi, kau kan sering cerita tentang keluargamu yang aneh, jadi aku sudah mengira akan seperti ini jadinya” Crell tersenyum “Eh! Jangan nangis dong!” Crell, Plio, dan Klio panik melihat Rechan menangis dan meringkuk di meja. Jarang-jarang Rechan menangis. Crell memegang tangan rechan dan mengelus kepalanya.
Seketika Rechan mendongakkan kepalanya karena kaget “Eh, itu…” Rechan salah tingkah, mukanya benar-benar merah sekarang.
Plio berbisik pada Klio “Pst, sepertinya kita mengganggu, ayo pergi, kita pantau dari tempat lain saja”
“kau masih mau memantau mereka?”
“Lagi pula mereka sudah mau pergi kan lihat itu”
“Yah kita tunggu mereka di luar saja”
Plio dan Klio meminta ijin pamit keluar dan merapikan kursi mereka. Plio dan Klio beberapa kali menoleh pada Rechan dan Crell saat perjalanan menuju keluar. Plio menunduk, Klio tetap bermuka biasa seperti biasanya.
Di luar mereka mencari tempat bersembunyi yang aman, agar tak terlihat kalau oyaji dan ketiga istrinya keluar.
“Ada apa?”
Plio mendongak “Hm? Tidak, aku hanya kasihan pada Rechan” Plio berwajah menyesal sekarang. Tetapi sepertinya kali ini tak di buat-buat.
“Hm iya juga sih” Klio memandang pintu restaurant mengawasi kalau-kalau para orang tua keluar.
“Kita selalu mengacaukan hubungan Rechan. Kau lihat kan tadi dia menangis gara-gara tingkah makhluk menjijikkan yang menggelayuti ibu-ibu kita”
“Ya… Apakah putusnya hubungan Rechan dengan Nifhln juga karena kita ya?” Klio menatap sepatunya
“Sepertinya… Yah untung saja sekarang ia bersama Crell sama, dia laki-laki yang sangat baik sih”
“Tapi tetap saja kasihan kan, uuuuuuu Rechanku yang manis kan jadi menangiiis~” Plio menggelayuti tangan Klio
“Rechanmu? Rechan bukan punya mu lagi dia sudah jadi kakakmu, sainganmu Crell sama lho”
“EE!? Aku kan Cuma bercanda! Lagian siapa yang mau sama Rechan!”
“Dasar bodoh”
“Kenapa kau mengataiku bodoh~ aku kan mencintaimu Klioku cayaaank ahahaha muach“ Plio mencoba mencium Klio dan Klio menamparnya
“Jaga sikapmu! Dasar yaoi!”
“aaaaaaaaaaaa~ aku kan cuma bercanda~ jahat deh!~”
“Berisik!” Klio mulai sebal lagi dengan kelakuan Plio yang kumat “Kalau kau berisik nanti kedengaran mereka”
“Mereka?..... Oooh! Sudah kaluar sssssssst!”
“Kau yang diam” Klio kembali mamantau para orang tua. Oyaji masih saja tak sadarkan diri, Alioth menggendongnya di pundak seperti korban penculikan. Alioth terlihat santai membawa Oyaji di pundaknya walau agak jijik. Hallevie memegang tas oyaji dan Audrey tak boleh membawa apa-apa. Audrey yang fragile baru saja sampai tadi pagi, jadi tak boleh capek agar tak kumat (data selengkapnya tentang Audrey akan disampaikan di lain waktu :3). Kakak beradik kembar itu kembali mengendap membuntuti.
“Alioth, kau tak apa membawa dia? Berat kan” Hallevie cemas melihat suaminya yang menggelantung di bahu Alioth
“Hm? Mau bagaimana lagi~ memangnya kau mau, tepatnya kau kuat membawa ini (yang dimaksud ‘ini’ itu Oyaji :3)?” Alioth berkata santai, Audrey hanya mengamati oyaji dengan cemas
“Ah, hahahaha tidak kuat sih~ Eh Audrey, jangan cemaskan makhluk ini (Yang dia maksud oyaji :3), nanti kau capek sendiri”
“Eh anu, Alioth, kenapa kau tidak telefon anakmu dan menyuruhnya membawa Echan pulang dengan motor?”
“Hm? Benar juga sih sebentar aku akan telefon” Alioth menjatuhkan oyaji ke tanah dan mengambil hpnya. Seperti biasa Audrey kaget melihat Alioth menjatuhkan oyaji yang tak sadarkan diri ke tanah.
Sementara itu Plio dan Klio juga kaget melihat ibunya menjatuhkan Oyaji ke tanah setelah mengobrol. Mereka tidak bisa mendengar dengan jelas pembicaraan mereka. Tetapi Klio sedikit menengar “telefon anakmu” dan mulai curiga “Perasaanku tidak enak”
“Hm?” Plio masih serius mengamati Alioth yang mulai menekan tombol di hpnya. Mau menelfon siapa ya ibu?”
“Salah satu dari kita”
“Hieee!?”
“~ I wanna Kill you now yeah~ I love you but I still wanna kill you~(Ringtone hp Plio. Saya tidak bisa bahasa inggris tapi yah intinya sih itu :3)”
“UWAAAAAAAAAAA!!!!!!!!!!!!”
“Benarkan”
Alioth menoleh ke arah Plio dan Klio. Hallevie dan Audrey juga ikut menoleh dan kaget. “Di situ kalian rupanya, dasar penguntit!” Alioth membawa oyaji dan berjalan menghampiri anaknya
“Eh! Anu! Itu!” Plio tergagap dan gemetar
“Tak apa lah, kali ini kumaafkan. Untung kalian di sini” Alioth mengangkat oyaji dan menaruhnya di pundak Plio “Kau saja yang bawa Echan ke rumahnya, kami mau pergi” Alioth meninggalkan mereka
“Eh tunggu!! Mau kemana!? Berat nih!” Plio protes dan menyesal telah protes, melihat ibunya jadi bermuka sadis membuat bulu kuduknya berdiri
“Bersenang-senang~” Hallevie tertawa dan pergi menggandeng tangan Audrey dan Alioth
“Hari yang sial ya”
“Apa! ‘Kan aku yang membawa oyaji! Kenapa kau yang mengeluh!” Plio kesal lagi
“Suka suka”
“Sialan!”
Plio dan Klio akhirnya pulang dengan putus asa di malam natal yang sial. Oyaji mengigau dan meraba-raba Plio. Plio pun menbantingnya ke tanah. Akhirnya Klio yang membawa oyaji pulang. Tapi anehnya satl Klio yang menggendong oyaji, ia tak mernah mengigau… :3

Night To Christmast



Grale’s View

Malam natal, ah tepatnya, malam sebelum natal. Udara sangat dingin karena sudah mau mendekati bulan Januari, dimana biasanya salju akan turun untuk pertama kalinya di tahun yang baru. Dingin, Harusnya begitu, tetapi  entah karena rumah ini isinya dipenuhi orang-orang yang sangat enerjik atau apa, hawa panas oleh semangat enerjik mereka pasti akan membuat rumah ini “panas” sekalipun sedang turun salju maupun badai, hahaha…Tapi hari ini, rumah ini kosong. Hanya ada aku dan keheningan rumah ini saja. Kalau kata adikku sih, “galau”…entah bahasa dari mana itu.
Bunyi jam yang detiknya akan kau dengar  ketika kau sedang sendiri itu silih berganti masuk dan keluar melewati telingaku ini. Benar-benar sepi! Bila kalian tahu apa yang biasa terjadi dengan rumah ini, mungkin kalian akan berkomentar “tidak mungkin!!” atau perkataan sejenisnya, diucapkan dengan nada sekaget-kagetnya, ataupun rasa tidak percaya di dalam pikiran kalian.
“Bosan…” gumamku… Sendirian di rumah yang cukup besar ini, ditambah tidak ada kegiatan yang berarti. Kunyalakan TV untuk sesaat, mencoba mencari hiburan di sela-sela kebosanan ini. 1 menit kemudian kumatikan lagi karena hasilnya nihil, acara TV tidak ada yang menarik untuk ditonton saat ini. Hal ini malah membuatku tambah bosan. Setiap mencoba sesuatu untuk menghilangkan rasa bosan ini, lalu kemudian gagal, yang didapat hanyalah rasa bosan lagi.
Akupun melihat ke sekeliling rumah, “Sepi…”  Tidak perlu dijelaskan, memang sangat sepi. Para orangtua entah kenapa ,  mereka semua pergi bersama-sama malam ini. Sepertinya Oyaji ingin dibantai habis-habisan…ehem, bercanda kok…
Yang lain, Plio, Klio, Lene dan Lena, entah apa yang sedang mereka lakukan sekarang, tapi sepertinya aku merasakan feeling yang menunjukkan bahwa mereka sedang mengawasi Oyaji akan gerak-geriknya yang sangat aneh…Mungkin aku berpikir terlalu berlebihan…Tapi bukankah keluarga ini memang sudah berlebihan keanehannya, jadi yah, perkataanku itu mungkin, ada benarnya juga.

Kedua pasang adik-kakak kembar itu sudah, lalu…Wolfwood.  Tadi dia pergi ke rumah Xylia, calon is-, ehem…teman masa kecilnya untuk makan malam. Dan itu sudah berlalu 3 jam yang lalu, tepatnya pukul  7 malam. Dan sekarang sudah jam 9 malam, dimana aku masih saja disini tidak ada kerjaan.
Akhirnya, 10 menit kemudian, setelah memakai jaket yang panjangnya selutut, dan sebuah syal, Akupun memutuskan untuk keluar juga… Kubuka pintu rumah itu, dan aku pun menuju dunia luar yang dingin itu. Jam di tanganku sudah menunjukkan pukul  22.30 malam. Terlalu larut memang, untuk seseorang pergi keluar rumah di malam dingin begini, tapi sekarang sih, malam sebelum natal, jadi tak masalah ‘kan?
Selangkah, dua langkah, tiga langkah, Menyusuri  jalan dengan tujuan yang tidak pasti. Hanya demi menghilangkan kebosanan ini kok. Benar-benar tidak tentu arah,” Sepertinya menghabiskan waktu di central square tidak buruk juga…” Aku pun memutuskan untuk pergi ke central square, tiba-tiba saja terbesit begitu.
Sampailah di Central Square.  Banyak orang-orang sedang  melakukan kegiatannya masing-masing.  Ada yang datang bersama-sama keluarganya, berkumpul dengan teman-teman mereka, atau berdua saja dengan pasangan mereka, ataupun…sepertinya yang sendiri hanya aku …yah sudahlah.
Bicara soal pasangan, sepertinya ada 1 pasangan yang sedang berjalan bersama. Dari jauh, mereka terlihat seperti…Wolfwood dan Xylia. Dan memang benar mereka sedang berjalan bersama. Sebaiknya aku tidak mengganggu mereka, soalnya jarang-jarang juga melihat mereka yang sedang akur begini,hihihi…
Jam sekarang sudah menunjukkan pukul 11 malam, benar-benar…tinggal satu jam lagi. Aku hanya bisa menunggu saja di tempat ini yang sama sekali ramai tapi seperti tidak ramai bagiku. Dari pada berjalan tanpa arah begini, akupun memutuskan untuk mencari tempat duduk, kulihat di seberang sekitar 5 meter dari tempatku berdiri sekarang, ada sebuah pohon yang di lingkari oleh kayu-kayu yang berfungsi sebagai kursi. Padahal dari tadi kucari tempat duduk saja susah sekali. Di kafe-kafe pun penuh semua, sama sekali tak ada satu pun kursi yang bersisa. Kenapa ini ada satu kursi kosong yang secara tempat sih sangat strategis… walau jauh juga dari spot bagus di tempat ini yaitu, air mancur yang menyala itu.

Ya sudahlah, dari pada keburu di tempati orang, kebetulan kakiku sudah pegal, jadi kuputuskan untuk duduk saja.
“fuhh…~”
Sedikit melepas sedikit lelah karena sudah berjalan dari tadi. Sebenarnya tempat air mancur itu ada sekitar 6 atau 7 blok dari sini, berarti lumayan jauh juga sih. Tahun lalu air mancur itu belum ada di sini sih, jadi itu merupakan objek baru. Agak penasaran sih, katanya sih bagus, tapi cukup malas juga sih kesana, karena kalaupun kesana sekarang, air mancurnya belum menyala. Air mancurnya baru akan menyala pada pukul 12 tepat tengah malam ini. Merayakan Natal tentunya.

“hmmm~”

Sepertinya aku mendengar sesuatu yang dekat, apa aku salah dengar ya?
“kemana ya…”
Lagi-lagi suara yang sangat dekat, karena kali ini yang kedua kalinya, aku mulai familiar dengan suaranya, dan sudah terbesit orang yang sepertinya punya suara ini.
“hmm…kalau saja-“
“Fumi?”
Ternyata, Fumi ada di belakangku. Duduk termenung, dan sepertinya sendirian.
“Grale?!!  Ngapain kau disini?”
“Fumi juga, ngapain?”
Kami saling menatap kebingungan untuk beberapa saat, lalu tertawa bersama.
“ahahahahahaha”
Dan begitulah beberapa menit berlalu diisi dengan pembicaraan yang kedengarannya biasa saja itu, pembicaraan pada umumnya, itu saja.
“hei, Grale”
Fumi bertanya,  “ng? apa?”
“Kau punya resolusi untuk tahun depan?”
“resolusi?”
“iya, jangan bilang tidak ada…hhh~ kau itu, jangan-jangan benar apa yang dikatakan Wolfwood, kau tidak ada semangat ya?”
Saat ini, dalam pikiranku hanya sedang terpikirkan suatu hal, suatu hal yang…entahlah, mungkin bisa disebut untuk resolusi tahun depan, tapi yah…
“Baiklah, kau dengarkan saja resolusiku dulu…”
Fumi berbicara soal resolusinya untuk tahun depan, sementara aku tetap berpikir akan bagaimanakah selanjutnya. ‘Selanjutnya’ ini pun aku tidak tahu apa, namun saat ini hanya itu yang sedang kupikirkan.
“Jadi, intinya, resolusiku untuk tahun depan adalah, dapat mencapai sesuatu yang lebih hebat dari tahun ini…”
Fumi mengatakannya dengan bangga, semangat sekali sepertinya.
“Kalau kau Grale, apa resolusimu? Sudah terpikirkan belum?”
Tanpa pikir panjang lagi, akupun langsung menarik tangan Fumi secara tiba-tiba, orangnya kaget, pasti.
“Eh?! A,apa?! Kau mau kemana Grale?!”
“ikut saja dulu”
Aku pun berlari sambil memegangi tangannya yang lebih kecil dari tanganku, tentu saja. Karena kerumunan orang sangat banyak, genggamanku semakin erat supaya kami tidak terpisah.
Kini waktu sudah menunjukkan pukul 11.45, tinggal 15 menit lagi menuju tengah malam. 2 Blok sudah terlewati, sisanya masih ada sekitar 5 blok lagi menuju air mancur. Dengan banyaknya orang-orang yang berkerumun, baik searah maupun berbeda arah, membuat ku semakin sulit untuk menerobos. Yahh namanya juga malam menuju natal, pastinya banyak orang yang akan ke tempat air mancur itu.
Persimpangan demi persimpangan pun aku lewati, lampu hijau juga kuterobos saja karena waktunya memang sudah sangat mepet sekali. Untung saja mobil sedang tidak ada yang lewat, beruntung.

10…
Tinggal 2 blok lagi!
5…
1 blok lagi!
1…
0
Dan air mancur dengan sinar proyektor itupun keluar, tepat saat mereka sampai…
“huwa…”
Sepertinya Fumi kagum, ia bereaksi dengan suara pelan…
“resolusi dariku…mulai hari ini, akan kubuktikan dengan perbuatan…daripada mendengar kata-kata yang penuh dengan pertanyaan dan ketidakpastian…lebih baik langsung ditunjukkan saja, seperti layaknya hari ini…hanya hadiah kecil yang tidak terlalu istimewa…”
“ini…
walaupun sederhana, lebih baik daripada tidak sama sekali…yang lebih penting, ‘perasaan yang ingin di sampaikan’ itu dapat tersampaikan kepada orangnya ‘kan?”
Fumi terdiam sebentar, lalu tersenyum.

“makasih…Grale…”
Aku hanya dapat membalasnya dengan tersenyum juga…