Rabu, 04 Januari 2012

happy new year

Hai semuanya ini author XXX :D
Semua author udah post gambarnya nih, tinggal aku hehe
yah inilah gambar mereka. Aku ga gambar Plio dan Klio yang Present soalnya aku lagi ga bisa gambar cowo hehehe.


Ini Ayachan, anaknya Rechan dan Crell. Dia main salju sendirian soalnya dia lagi ngambek ga dikasih permen di tahun baru.


Ini Rechan dan Crell. Tadinya mau gambar meerka lagi mesra tapi 'kan aku lagi ga bisa gambar cowo... jadi gini deh hahahahaha~


Ini gambar Plio dan Klio di masa lalunya yang masih Innocent. Di bawah ada tulisan "Why we can't be like this forever?"

Yah ini aku cuma doodling aja sih, lagi males gambar yang sampe ditebelin dan dirapiin, kecuali gambar PK, aku gambar itu pas lagi niat hehe.

Selasa, 03 Januari 2012

Greetings


Wolfwood dan Xylia tentu!

mereka sedang duduk di coffee shop kesukaan wolfwood beberapa hari setelah natal dan rencananya mau belanja buat taun baruan bersama keluarganya Xylia. hahay!

chirstmas



eeetoo, ini fumi sama grale udah lama banget nggak digambar oTL
hahaha

ya gitu lah, malam natal mereka jalan berdua gitu, nyusul anak2nya yang lagi main-main di bunderan semacam town square gitu, ada tempat mainnya disana.

Selasa, 19 April 2011

Cenayang, Editor Dell

kemarin malam saat bermain ke rumah editor XXX, saya pun dengan iseng menggambar Fumi...trus ditambahin disebelahnya pun Grale, namun belum selesai. Setelah itu saya dijemput, kemudian pulang.
Ditengah jalan, menuju rumah, kulihat motor ninja bewrwarna hitam melaju di depan kendaraanku. Karena aku suka ninja warna hitam aku pun membayangkan "kalo aku punya motor itu aku pinginnya yang warna hitam dove(ini gatau bener apa salah, istilah dovenya. Sebenernya yaaa yang cat nya tuh ga mengkilap, tapi rada kayak alumunium gitu lah)"
lalu mobilku berhasil mendahului si ninja hitam itu, dan ternyata...
yang menaikinya adalah, laki-laki dan seorang perempuan yang diboncengnya.

. . .


Saat itu aku hanya terbelalak, terbengong, mulut menganga, terdiam melihat pasangan itu...


benar-benar cenayang...

Sabtu, 02 April 2011

Sedikit dudel untuk mengisi blog /PLAK


ini Plio, disuruh authorXXX supaya digambar ceunah...

Ini juga diminta oleh Author Diel...Wolfwood chibi~

Ini gambaran Author Dell...Grale in WACOM pake yang punya Author Diel

Rabu, 23 Maret 2011

sapu

Siapa sangka sapu menembak
Bulu anay tebar berantah
tolong hati kunjung tak sama
pinta ampun sepi di luar

tidak tau apa dikata
sapu lari terbengkalai
pojok lara tak kunjung reda
pinggir hati tiba merana

andaikan tau mereka
banyak baik dari sapu
patah kayu teredam sunyi
tunggu sadar seabad lagi

tiba sudah tersadar lara
balik hati yang terbengkalai
tak biasa orang terpana
sakit jiwa sapu merana

tak benar apa dikata
tentang sapu silih perangah
suka sapu siapa tau
tak tau tak mau tau

akhirnya tau nuansa
terpesona bajing terkapar
gunung hati tingkat perhati
bahagia lumuri nadi

baru kini engkau tersadar
banyak baik sapu terlandas
tapi apa mereka tau
sapu merana diterjang abu

roda

Alunan lagu nan membuai
ikat jiwa nun berderai
luruhi jiwa tergerai
menarik tak kan terkulai

Dengan tutu indahku
buai penontong terpaku
kunjung gigiti kuku
hanya duduk dan terpaku

Indahnya tari ini
hias sepatu bertali
melambai lengan hati
lentik indah terperi

Sudut-sudut dipatuk
tempo terlalu marak
dari semalam suntuk
jelmaan burung merak

Kunjungan yang berlalu
tinggallah ku terpaku
entah jadi benalu
atau dengan serdadu

Diapit tutu indahnya
tegak nun gayanya
sekat air matanya
sigap songsong paginya

Esok cerah terperi
tak buatan nun hati
walau turun sampai pagi
hari ini naik lagi

putaran

lempengan bunyi, berdentum bagai angin

merah laut mendendam angan

simfoni gelap penyayang cahaya

tidakkah ia berlari, memasuki kelebat angin

menemukan dirinya teruntai dalam kegelapan selamanya



Tak kunjung menemukan ujung jurang itu

pemisah antara dunia nyata dan angan

menolak kemerlap air untuk hatinya

tak bisa bicara lagi, ia telah mati

hatinya mati



tak ada yang tau, hanya berjalan

mencoba memisahkan perekat itu

merekatkan retakan itu

sama saja jadinya

kau hanya sampah



bayangkan saja rerumput awan menari

dan ia berdiri diatas jarum memanggul gunung

tak bisa

jangan sia-sia

hari ini tak tenang kembali



mau kau apa juga

tetap serahkanlah semua

jangan berlari di atas air

atau kau akan jatuh pada hampa

dan terbaring mati selamanya

......

Kau yang berbuat jahat, kau mungkin memang jahat, dan permainan dalam diam ini mungkin kau rasa kemenanganmu, tapi...

dasar naif

Aku tau, haha dan taukah kau? Kau salah berbuat jahat...

kau menjahati orang jahat

yang sama-sama egois, kita berdua ingin manang kau tahu. Kita saling melirik dan bersiasat jahat di belakang. Mungkin aku akan kalah, tapi kau berbuat salah.

jangan kau pikir dunia ini milikmu, tak selamanya kau akan menang.

mungkinkah aku akan menang?

Mungkin saja

hahaha

dan satu lagi yang harus kau tahu, aku lebih jahat darimu...

...

Disaat Kau mencintaiku, kau mengejar dan terus membuatku mencintaimu. Kau terus membuatku terjebak dalam sarang di hatimu dan tak ada orang lain yang tau. Tetapi disaat aku telah mencintaimu, kau malah mempermainkaku seperti boneka yang tak berdaya. Kau bersikap seakan kau orang yang paling di dambakan sehingga aku sangat pantas mencintaimu. Kau mungkin memang memilikiku, tapi tidak selamanya. Karena perbuatan busukmu lah yang akan menghancurkan dirimu sendiri. Aku memang mencintaimu, dan kau juga mungkin mencintaiku, tapi...

bukan begini caranya...



Egois!

benarkah?

Benarkah cinta itu pelangi?

Di saat semua orang pergi dan aku sendirian



Benarkah cinta itu abadi?

Di saat aku terbangun semuanya hilang



Benarkah Cinta itu mengalun?

Di saat aku terdiam sepi



Benarkah cinta itu indah?

Di saat semuanya rusak seperti ini



Benarkah cinta itu berharga?

ketika aku tak mempunyai apa-apa



Benarkah cinta itu akan datang?

disaat semuanya menghilang



Benarkah cinta di sini?

Aku sendirian di sini



Benarkah aku akan menemukan cinta?

Aku terkurung di sini



Benarkah cinta itu manis?

Cintaku terjatuh di reruntuhan



Benarkah cinta itu ada?

Apakan aku juga ada?



Tetapi, saat kau datang, aku tahu

semua itu benar



terimakasih...

pena

semena-mena
pena itu menulis semua tentangku
pena itu menggoreskan darah dari pelangi di mataku
pena itu semena-mena

aku tahu aku mengaturnya
tapi tetap saja
aku tak bisa mencegahnya
tinta-tinta manja

setiap detik pena itu menggores
menyayat lelaku kupu hati
jalan yang telah ditentukan
merantai semua harapan ini

sang pena
yang selalu mengurungku dalam tintanya
yang selalu mengunciku pada bulunya
lepaskan aku, aku ingin pulang

tapi pena itu egois
jika pena itu ingin terus menulis
akan terus menulis
sedangkan aku membusuk menjadi sampah

jika kau memang ingin mencari tinta darah
koreklah jantungku lalu biarkan aku pulang
tetapi kau sang pena egois
kau tetap mengurungku

jika kau memang tak mau melepaskan kunci itu
maka masukkan aku dalam tulisanmu
jadikan kulitku sebagai kertas
agar aku dapat selalu bersamamu

Sabtu, 12 Maret 2011

after the terrible tsunami and earthquake, did CLF personels survive??

Yahood! Messanger
Message Windows:

CLF author Diel: DEL!!! GIMANA KABAR PERSONEL CLF DI JEPANG!!!

CLF author Dell: emmm liat di twitta sih, aku baru nemu kabar dari Oyaji nih... dia lagi di cafe gitu di pinggir jalan, pas gempa terjadi...di daerah shibuya gitu... ngapain coba dia siang2 gitu di kafe??

CLF author Diel: dapet kabar para ibu tidak? yang pasti Audrey was was nih di Praha

CLF author Dell: emm...dapet2, baru liat twitta lagi tadi, Hallevie lagi di toko kue sih pas gempa, dan dia gapapa, tokonya cuma goyang2 biasa...memang mengerikan masih bisa tenang di keadaan begitu, udah biasa mah beda ya...sekarang sih lagi ada dirumah sakitnya oyaji tempat kerja grale

CLF author Diel: ngapain di rumah sakitnya Oyaji???

CLF author Dell: baru ada kabar, rumah ancur...ga roboh sih, cuman rada copot2 gitu
CLFauthor Dell: ngumpul di rumah sakit weh

CLF author Diel: neeeeeeee -_____-'

CLF author Dell: kabar Wolfwood gimana?

CLF author Diel: dapet dari THUMBlr, sekarang dia lagi di osaka di suruh Fumi ambil berkas buat materi di kampus, asalnya mau pulang hari ini tapi ga ada ransportasi umum antar kota yang jalan untuk sementara ini. Dan dapet kabar juga kalo mobil dia isinya full lumpur akibat tsunami
CLF author Diel: BTW, Fumi gimana kabar? pasti lagi dalam pelukan Grale deh ~<3

CLF author Dell: jiji aeh...lagi belom ada kabar nih mereka berdua sih, Xylia gimana?

CLF author Diel: Wolfwood sih sempet nulis tweet kayak gini "@Xyliaaa buji datta ka? buji dattara, kono tweet o henji shite!!!"

CLF author Dell: trus udah dijawab? osaka juga kan bangunan kaca pada pecah

CLF author Diel: belum ada balasan, dan ga parah kok

CLF author Dell: iya sih...

CLF author Diel: PK?? LL? CR couple?

CLF author Dell: waduh belon ada kabar...tapi CR sih lagi pas bareng, mereka ketemu di jalan gituh, tadi liat di pesbuk

CLF author Diel: aaaaaarrrrrrrggggggggghhhhh!!! kalo mereka ada yang ga selamet gimana?? ga bisa lanjut nih cerita!

CLF author Dell: doain aja cuma luka ringan

CLF Author xxx: hoho mereka tidak apa-apa, cuma lena kena runtuhan tembok, tapi malah ketawa-ketawa, terus plio lagi sama **** di kafe gitu deh, tapi gapapa. pas tembok kafe runtuh **** dilindungin Plio gitu, tapi ga ada luka ko. Kalo Klio cuma kepalanya berdarah, tapi bukan karena gempa, karena tauran(???). kalo alioth pas gempa ilang, tapi pas gempanya selesai, tiba-tiba muncul lagi dan tidak ada luka sama sekali. CR lagi kencan tapi pas ada gempa mereka lagi di taman (ga sadar ada gempa saking mesranya).

terus LL sama siapa? mereka lagi sama temen2nya di tk pas lagi jalan2 sekolah. tappi kucing Crell ada yang mati (hiks). ngmomong2, mrumah mereka ga ada retakan atau runtuhan sama sekali entah kenapa (di jampi2 kali ya??) mereka ga ada yang di rumah. LL ketimpa reruntuhan salah-satu tempat piknik anak2 tknya. yah begitulah menurut cerita ****, calon istri Plio (ups keceplosan hehe) <= nyebelin banget orang ini ya pengen di bunuh

Selasa, 15 Februari 2011

O TANJOUBI OMEDETO!!!!


YO! O Tanjoubi Omedetou GRALE

hari ini tepat 1 hari setelah VALENTINE adalah ulang tahun grale yang "palsu"

semoga cepat dapat jodoh (yang asli maupun yang palsu *tendang*),


this picture is own by CLF and original by CLF
ask us first to use for personal purpose

Selasa, 01 Februari 2011

spoiler, but a can't seem to resist telling this story..

WOLFWOODS JURNAL: ENTRY XXX (this setting is in the future of the current story setting)

Selama aku di Belanda aku mempunyai kebiasaan baru, membawa coklat bar kemanapun aku pergi.
Entah di saku jaket, tas, kantong jeans, tempat pencil, yang pasti kemanapun aku pergi aku selalu membawa coklat.
Kenapa begitu? aku ga mau dengan gampang jatuh sakit.
Riset mengatakan kalau sudah terasa cukup lelah atau ga enak badan memakan makanan manis itu baik.
Kalau aku sudah merasa agak pusing aku minum obat dan di akhiri coklat bar, atau hanya sekedar lapar aku mengganjal perutku dengan coklat bar.

Sewaktu pulang ke Jepang aku ga sadar kalau kebiasaan itu tidak hilang, sampai suatu hari..

"Wood, kenapa kamu seneng banget makan coklat?"

"Hah? kenapa emang Xy?"

"Kok kayaknya setiap aku ketemu kamu, kamu selalu bawa coklat"

"Wah.. iya ya? aduh ga sadar nih, kyknya ini gara-gara aku biasa bawa coklat ke mana mana di Belanda dulu"

"Ku kasih tau ya, umurmu tuh udah ga muda lagi, entar kamu malah ngegendutin kalo makan coklat terus tiap hari.. nih" Xylia mengeluarkan sebatang SoyJoy dari tasnya, lalu memberikannya padaku "Kamu ganti kebiasaanmu itu, ini jauh lebih sehat dari pada coklat, sama gampangnya kalo mau beli kan? di kombini ada, di vending machine juga ada"

Aku tertawa dan mengatakan "Iya.. baiklah"

lalu dia bertanya "Kok ketawa?"

Aku berfikir sebentar, lalu kuputuskan untuk menceritakannya "Kamu mungkin lupa, tapi dulu kamu pernah melakukan hal yang mirip kayak sekarang"

"Oh ya?"

"Ya, dulu kulitku kasar, kamu pernah nyuruh aku pake lotion dan bawa lotion kemana mana" kutunjukkan di tas yangku bawa ada lotion dan ku tunjukkan juga di lemari mobil ada lotion

"Wah, aku pernah nyuruh kamu bawa lotion ke mana-mana? pantes aku heran kenapa kulitmu ga kasar seperti cowok pada umumnya"

"Berkatmu"

-----------------------------------------------------------------------------------------------

pasti bingung ya? tentu saja karena ini adalah spoiler berat!!!!
nanti di ceritain deh, just wait okey~

Senin, 03 Januari 2011

"Collection of Point of View" (Lanjutannya Grale & Fumi point of View 5)

“Mau kemana?”
Tanya perempuan dihadapan Grale. Yahh, tujuan utama Grale tentu saja Musashino Art University. Begitu pula perempuan ini. Mrekea berdua saling tidak tahu menau akan tujuan kampus mereka yang ternyata sama itu.

“eetoo…saya mau pergi ke Musashino…”
“Eh?! Musashino?!!!”

Perempuan itu agak kaget dengan jawaban Grale. Tentu saja, karena seperti yang tadi kubilang sebelumnya, tujuan mereka itu sama.

“Eh, I,iya, kenapa? Jangan bilang hari ini libur…”

Yah, walaupun tidak mungkin, tetapi Grale sudah cukup was-was dan khawatir gara-gara respon yang diberikan perempuan itu.

“Eh, nggak lah!, masa aku udah cape-cape malah libur! Yang bener aja!...Hanya saja, tujuan kau dan aku sama!”
“Sama-sama Musashino ???”
“iya…”
“Musashino Art University???” Grale masih kurang percaya tujuan mereka sama, kalau-kalau salah tebak, bisa malu dia.

“iya! Masih ga percaya juga?” Perempuan itu melihat Grale dengan tatapan aneh.
“E, enggak…percaya deh percaya…”

Mereka pun memutuskan untuk pergi ke Musashino bersama. Diperjalanan, mereka hanya mengobrol tentang pekerjaan mereka. Bertanya soal ‘kenapa jadi guru seni?’ atau sebaliknya, ‘kenapa mau jadi guru di UKS?’, hanya seputar itu. Selebihnya hanya diam yang ada, menunggu sampai ke tempat tujuan.

“haaaa~ nyampe juga, eh! Bukan saatnya aku bersantai-santai!!!” Ucap perempuan itu. Ia langsung berlari menuju ruang rektor untuk melapor.
‘ia mau berlari sampai mana? Tapi katanya tadi ia akan ke ruang rektor sebelum mengajar…hebat sekali lari-lari di tempat luas seperti ini’
Grale hanya bergumam dalam hati tentang betapa hebatnya kalau perempuan yang ia temui itu berlari tidak henti sampai ke ruang rektor. Dan Grale baru menyadari sesuatu, bahwa tujuan mereka lagi-lagi sama, yaitu ruang rektor.

Sesampainya di ruang rektor…

Perempuan tadi pun ternyata sesuai dugaan, sampai duluan. Ternyata benar, ia berlari dari gerbang sampai ruang rektor. Dan alhasil, ia sampai dengan cukup terengah-engah.
Perempuan itupun mengetuk pintu , dan,
“O,ohayou gozaimasu!”
“ooo~ datang juga…kamu, yang mau mengajar jadi guru kesenian ya? Hmm…Kasugi…Fumi kalau saya tidak salah?”
“I,iya. Ah, maaf pak! Saya terlambat! Tadi ada sedikit kejadian yang aneh…”
“Aneh? Yah…yang penting kau sudah sampai disini…siap mengajar ‘kan?”
“Siap!”
“Baiklah…silahkan pergi ke ruanganmu”

Suara yang terdengar agak buyar dari luar, terdengar oleh telinga Grale yang sampai sekitar 15 menit kemudian. Setelah pembicaraan dan pemberian keterangan dari rektor MAU, pintu pun terbuka, dan Grale persis berada di sebelah pintu, menunggu perempuan tadi keluar.
‘Cklek’
“Ah, kau lagi…lagi-lagi, tujuan kita sama ya?!”
Perempuan itu baru sadar sepertinya…
“Iya, tentu saja…”
“Baiklah, aku duluan ya kalau begitu!” Perempuan itu pun pergi menuju kelas yang telah diberitahu sang rektor. Sementara sang rektor melihat ada seseorang lagi di depan pintu, yang tidak lain adalah Grale, dan kemudian mempersilahkan dirinya untuk masuk.
Seperti biasa, rektor itu member penjelasan yang diperlukan selama menjadi guru ruang kesehatan, dan peraturan-peraturan lainnya. Selesailah perbincangan formal itu, yang setelah itu Grale pun pergi menuju ruang kesehatan tempatnya bersan-, ehem, bekerja.

Kamis, 30 Desember 2010

Yeah (judul yang aneh, aku bingung mau kasih judul apa)

“Mamaaaaaaa!!” Lene berlari dan memeluk kaki Alioth yang sedang memasak makan siang.
“Ada apa?” Alioth mengelus kepala Lene
“Kakak nakal!”
“Hmmm, ya nanti mama pukul” Alioth meneruskan memasak. Plio yang mendengarnya berteriak dan mencoba merayu Lene dengan permen namun tidak berhasil.
Siang itu begitu terik. Bahkan Rechan yang begitu rajinpun tertidur di sofa. Plio dan Klio tertidur di karpet di depan tv dan Lene dan Lena menumpakinya. Hanya Alioth yang masih bertahan. Ia mandi dengan air dingin dan memaksa Lene-Lena juga mandi dengan air dingin. Plio dan Klio yang tak bisa dibangunkan ia siram dengan air es. Rechan baru saja mandi dan Alioth tidak membangunkannya.
“Curang! Kenapa Rechan tidak dibangunkan juga!?”
“Dia sudah mandi, dia juga sudah bekerja keras, tidak seperti kalian, hanya bermalas-malasan! Tidak berguna!”
“Uwaaa! Jangan bilang begitu bu!”
“Ibu menyesal melahirkan kami?” Klio berkata dengan kalem
“Lumayan”
“HEEE!? Lumayan itu jawaban yang sulit di definisikan!”
“Memangnya bagaimana ibu melahirkan kami?” Klio menatap Alioth dangan tajam
“Tidak sopan!”
“Aku hanya ingin tau, kau mewarisi tatapan ini”
“Hmmm, hari yang berat” Alioth membayangkan masa lalunya
“Ceritakan! Ceritakan!” Lene Lena ikut-ikutan sambil melompat-lompat”
“Hari itu, hm, kalian duduk bisa tidak!”
“Eee? Baiik”

***

Mobil-mobil berseliweran tanpa perasaan. Nenek yang menyebrangpun tak mereka pedulikan. Sepertinya tak ada harapan untuk menumpang. Ia sudah putus asa menyetop mobil di jalan. Sebesar apapun ia berharap ada yang berhenti, itu tak berguna. Ia berlari kembali ke rumahnya dan mengambil motor dengan seluruh tenanganya yang tersisa. Sialnya, motor itu terlalu berat untuknya sekarang.
“A!! Alioth san!!” Seorang anak berlari menuju Alioth dan menghampirinya
“Ah! Grale! Bisakah kau...” Ia tidak jadi melanjutkan kalimatnya “Tidak jadi” Alioth melihat Grale yang kebingungan. Lagipula apa yang bisa anak umur sembilan tahun perbuat untuk membantunya ke rumah sakit sekarang?
“Kau mau melahirkan!?” Grale terbelalak “Tapi kenapa tidak pakai taxi!?”
“Tidak ada yang berhenti, minggir, aku sudah mau melahirkan” Ia membawa motor ke tepi jalan
“Jangaan!! Kau bisa kecelakaan!” Grale menarik baju Alioth
“Dari pada aku melahirkan di sini!”
“Aku akan telfon Ibu! Berikan kunci rumahnya!” Grale mengambil kunci rumah Alioth dan menuju telefon
            Alioth tidak tahu lagi apa yang harus ia lakukan. Benar kata anak itu, ia tak akan sampai ke rumah sakit dengan motor itu, lagi pula tak akan ada yang menolongnya. Ia membayangkan kalau ia akan melahirkan di sini. Tidak, ia tidak akan melahirkan di sini! Ia bisa menahannya. Ia meneguhkan hatinya dan berfikir betapa banyak pengalaman yang lebih berat.
            “Kalau hanya ini, ugh!” Alioth memegang perutnya dan mengerang “Cih! Sial! Kalian bersabar sedikit dong!” Dengan tiba-tiba sakit itu hilang beberapa menit “Waw, aku tidak menyangka akan menurut, aneh sekali~”
            “Ibu datang!” Grale berlari keluar menyambut Hallevie. Alioth hanya melongok sambil memegang perutnya
“ASTAGA!!!” Hallevie berlari menuju Alioth
“Kau kemari pakai apa hah? Cepat sekali”
“Tak penting! Ah, ah!” Ia mencari sesuatu “Oooh!!”
“Ngapain sih” Alioth kembali memegang perutnya. “Hei!”
“Ayo cepat! Nanti ketubannya pecah!” Ia menyuruh Grale menaikkannya ke motor
“K..kau yang” Alioth tampak ragu
“Tentu saja! Cepat naik, kita akan ngebut”
Grale mebantu Alioth naik motor. Hallevie menyalakan mesin dan melaju dengan sangat ngebut. Asap yang mengepul membuat Grale batuk-batuk. “Astaga, kenapa semua istri ayahku ini gila ya...” Ia diam mencerna suasana “Eee! Lalu aku harus berbuat apa!?” Ia melihat kunci rumah Alioth.

***

“Dokter! Ada yang mau melahirkan!!” Hallevie menuntun Alioth, ia meneriaki suster karena panik
“Bu! Ruangan habis!”
“APA!? BODOH! KALIAN BODOH!!” Hallevie menunjuk muka suster yang kaget
“Su.. sudahlah Hallevie, kita, Agh! Kita ke rumah sakit lain saj..” Alioth mengerang
Suster lain berlari menuju mereka dan berteriak “Ada ruangan! Cepat!”
Alioth dibawa ke ruangan itu dan Hallevie mengikutinya. “Tunggu! Alioth aku akan mengurus sesuatu, kau bisa melahirkan sendiri kan?”
“Bicara apa kau? Suster akan membantuku”
“Berusahalah!” Hallevie berlari menuju arah yang berlawanan. Ia mencari suster lain yang tadi mengurus ruangan. Ia bertanya, ruang apa yang mereka sediakan untuk Alioth
“Anu, karena tadi ibu terus berteriak, kami berusaha mencari ruang apa saja, dan kami hanya dapat ruang itu, kami menginformasikan ruang pertama yang kami lihta kosong” Suster itu terlihat gugup
“R..ruang apa!? Jangan menakut-nakuti! Ini menyangkut nyawa kau tau!”
“R.. ruang super VVIP” Suster itu terlihat bingung sekarang
“Fiuuh~” Hallevie bernafas lega dan berlari menuju Alioth lagi. Namun dalam perjalanannya menuju ruangan yang tadi suster informasikan, ia menyadari sesuatu “ Super VVIP!!?”

***

Seseorang berlari dengan terburu-buru. Ia menyelinap diantara orang sakit dan terkadang hampir jatuh tersandung suster yang berjalan. Ia berhenti karena ragu apakah itu ruangan yang benar, namun setelah ia mendengar tangisan bayi, ia yakin kalau itu ruangan yang benar. Ia membuka pintu dan melihat seorang wanita menggendong dua bayi.
“Alioth!!”
“Bodoh” Hallevie mengepalkan tangannya
“Eeeh!?”
“Kenapa kau baru datang hah!”
“Eee, aku”
“Tapi aku bersyukur” Alioth melihat suaminya yang terengah dan berantakan
“Bersyukur karena aku datang !? oooh!!” Echan berputar-putar
“Bukan, aku bersyukur anakku tidak mirip kau”
“Hiee!?”
Hallevie tertawa, Alioth mencium kening anaknya. Ia sangat senang anaknya kembar dan dua-duanya laki-laki. Ia berharap mereka akan menjadi anak yang penurut dan tidak menyusahkan. Echan menyentuh bayi-bayi itu, dan seketika mereka menangis dengan kencang
“Ara, mereka tidak menyukaimu hahaha” Hallevie tertawa
“Jangan sentuh!”
“Ooh! Kalau menangis seperti ini, hihihi” Wajah Echan memerah dan dari hidungnya keluar darah
“Alioth, apa aku harus harus mengusirnya?”
“Usir saja” Alioth menatap Echan yang sedang berpikiran mesum
“Apa yang kau pikirkan?” Hallevie menatap Echan dengan tajam
“Aku? Aku ingin melihat... Ah! Maksudku, kalau mereka menangis kan... Ah maksudku, Alioth harus menyusui mereka, ah!”
“K.. Kau! KELUAAAAR!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!”
“HIEEEE!?”

***

Ruangan itu hening, Plio bengong dengan mulut terbuka, Kliomalah mengantuk, Lene dan Lena diam tak mengerti.
“Kalian ini mau dengar cerita tidak sih!?” Alioth mulai berasap
“Hieee!? Mau!”
“Jadi saat ibu melahirkan kami menyusahkan sekali ya” Klio mulai menghilangkan rasa ngantuknka dengan menampar pipinya sendiri
“Hmm, yah kalian tidak sabar keluar sih, tapi itu sudah berlalu. Aku tak pernah membayangkan kalian akan tumbuh seperti ini”
Plio dan Klio hanya diam. Rechan terbangun dan kaget menyadari ia telah tertidur. Ia meminta maaf pada Alioth karena telah tertidur. Bagaimanapun Alioth memaafkannya, Rechan tetap meminta maaf.
“Anu, Rechan” Ucap Plio
“Apa?”
“Kau imut”
“HIEEEE!!??”
Sebenarnya bukan itu yang ingin Plio katakan, ia hanya ingin bertanya bagaimana saat Rechan dilahirkan. Namun ia lupa, kalau Rechan tak pernah tau, siapa yang melahirkannya. Ia pasti tidak tahu, bagaimana ia dilahirkan.

Jumat, 24 Desember 2010

Christmast Night


Salju yang pekat menaburi jalanan dengan remangnya, lampu jalanan yang menghiasi jalanan menambah harmoni jingga jalanan. Satu-persatu salju itu jatuh menimpa jalanan yang tak kunjung berhenti ditapaki manusia. Kucing-kucing yang meringkuk mulai pindah ke tempat yang lebih hangat.
Gadis-gadis kecil yang membawa keranjang roti berlarian dan tertawa-tawa bahagia. Musisi jalanan yang biasanya muram tersenyum dan berbagi dengan nyanyiannya.
Namun kebahagiaan itu tak selamanya dirasakan keluarga yang sedang tegang “bermain”. Mereka mengendap, saling menginjak dan memaki dalam diam.
“Sst! Nanti ketahuan bodoh!” Klio menjitak Plio dengan kesal
“Jangan injak kakiku dong!” Plio berbisik dan lari mengikuti Klio
“Sial! Mereka masuk ke sana! Oh ayolah!” Klio mulai jengkel. Mengikuti tiga orang tua memang sulit, apalagi di malam natal yang penuh orang bersenang-senang.
“Berdoa saja restaurant itu penuh jadi mereka ke tempat lain yang lebih sepi”
“Bodoh! Kalau di tempat sepi nanti malah ketahuan! Apalagi sama ibu, lagi pula dari jarak segini pun mungkin sekarang ibu sudah tau kita membuntuti mereka!” 
Karena Mereka terus berselisih, dan kedua adik kembarnya yang tak tahu apa-apa jadi terabaikan, Plio dan Klio memutuskan untuk menitipkan Lene dan Lena di tempat penitipan bayi yang baru saja mereka lewati. Lagi pula mereka akan lebih bahagia di sana dibandingkan dengan mengendap mengikuti langkah kakak-kakaknya yang cepat.
Kalau bisa dibilang, memang Plio dan Klio terkesan jahat pada adik-adiknya, tapi itu lebih baik dari pada mimpi buruk yang mungkin terjadi bila anak sekecil Lene dan Lena melihat hal tidak senonoh yang dilakukan ayahnya di malam natal. 
Semua berawal dari rumah mereka. Oyaji yang tiba-tiba datang sedang merangkul bahu Audrey dan Hallevie mengajak Alioth ikut bersama mereka. Dan yang lebih aneh, Alioth menerima tawaran itu "Sekali-kali" Ia bilang. Plio dan Klio yang curiga menguping pembicaraan para orang tua dengan penasaran.
"Tapi hanya sekali-sekali, kalau kau bertindak aneh-aneh seperti tahun lalu, aku benar-benar akan membunuhmu" Alioth menghirup tehnya.
"Te.. tenang saja sayangku~ Kita akan bersenang-senang dan tak ada kekacauan~" Kalau Echan yang berkata begitu terdengar tidak meyakinkan
"Aku tidak yakin, tapi kita bertiga, dia hanya sendiri. Aku yakin kita akan bisa mengatasinya." Hallevie tersenyum nakal
"Kalau Audrey tiba-tiba pingsan bagaimana? Dia baru saja datang kan" Alioth menatap Audrey
"E..Eh? Anu Tidak apa-apa" Audrey menjadi salah tingkah
"Hm, baiklah. Tapi, semua biaya kau yang tanggung, semua kerugian, kerusakan, sanksi, hukuman, kau yang tanggung" Alioth menunjuk Echan tepat di wajahnya
"Ee!? Ba.. Baiklah," Echan mulai merinding
"Semua biaya kendaraan, tanaga kerja, kekejaman, pembunuhan, pelampiasan dendam,..."
"Eee? kok jadi begitu? hahaha" Hallevie tertawa sambil menyingkirkan tangan Echan yang mulai meraba kemana-mana
"Hm, berjalan bersama 'itu' (Echan) memliki banyak resiko jiwa kau tahu, terlebih lagi, aku harus meninggalkan anak-anakku"
"Sudahlah Alioth, Plio dan Klio kan sudah besar, aku yakin mereka bisa menjaga Lene dan Lena. Lagi pula ada Rechan kan" Audrey yang mulai tampak khawatir dengan pembicaraan aneh ini mulai ambil bagian.
"Rechan pergi bersama temannya. Yah aku memang harus mengandalkan anak kembarku itu. Kalau begitu aku ganti baju dulu" Alioth pergi ke kamarnya dan memergoki Plio dan Klio yang menguping. Untungnya Alioth membutuhkan mereka, tidak akan menyenangkan kalau menyuruh setelah memarahi habis-habisan kan~ (ngomong apa sih aku,, lupakan saja ya :3)
Akhirnya malam itu, setelah mereka bertiga pergi, Plio dan Klio memutuskan untuk membuntuti para orang tua. Akan lebih baik dari pada dititipkan di rumah Grale si galau itu dan Wolfwood si rese itu. Mereka lebih senang dari pada harus berdiam diri di rumah sambil membawakan lagu nina bobo untuk Lene dan Lena. Yah walau begitu pada akhirnya Lene dan Lena dititipkan juga.
“Kalau begitu kecilkan suaramu” Klio tambah sebal. Ia menunggu dan menunggu.
“Ck! Aku mau masuk!” Plio mulai melangkahkan kakinya ke dalam restaurant. Namun Klio menariknya kembali
“Bodoh! Kau mau menggagalkan rencana kita hah!? Diam di sini dan tunggu!”
“Makan di rentaurant itu lama klio! Kita harus masuk kalau ingin tau apa yang dilakukan oyaji dengan para istrinya ‘kan!” Plio sangat kesal dengan permainan ini. “aku mau pulang”
“Aaaagh! Kau ini maunya apa sih!?” Klio kehabisan akal untuk menghadapi kembaranya yang menyebalkan.
“Masuk saja lah! Tak ada gunanya kita menunggu di luar kan!”
“SSST! Pelankan suaramu!” Klio menghela nafas. “Baik kita masuk, kau duluan”
“Kau kan yang puny ide, lagi pula ladies first”
“MEMANGNYA AKU PEREMPUAN APA!!?” Plio tak sabar lagi
“Ya sudah kalau laki-laki itu tak banyak omong, cepat masuk!”
“Cih sial!” Plio pun masuk dan memeriksa keadaan. “Aman” Klio pun masuk.
Mereka memeriksa kadaan lagi dan mulai mengendap mencari para orang tua mereka. Tak lama mereka di dalam restaurant besar itu, seseorang menepuk pundak mereka. Mereka hendak berteriak tapi takut mengganggu orang-orang di sana. Plio dan Klio pun menoleh dengan gugup dan berharap orang lain yang menepuk pundaknya.
“Ngapain kalian di sini?”
“RECHAN!!?” Plio dan Klio kaget
“Anu kami, kami euh” Plio bingung mau bicara apa
“Di sana ada ibu dan yang lain lo” Rechan tersenyum polos
“Apa!?” Klio menarik tangan Rechan dan membawanya menjauh
“Hei! Kenapa sih kalian ini!? Rechan melepas tangan Klio
“Kami sedang membuntuti mereka!” Plio semangat lagi
Rechan mengerutkan alis. “Untuk apa?”
“Kami hanya curiga, sebenarnya mereka mau ke mana, lagi pula tadi Oyaji bilang bersenang-senang ‘kan, bersenang-senang ala oyaji itu mencurigakan!” Plio memegang tangan Rechan dan Rechan melepaskanya
“Apaan sih kalian ini! Nanti kalau kelahatan dia gimana!”
Plio dan Klio saling tatap “dia?”
Muka Rechan memerah “ Lupakan”
“Aaaaaaaaaaaaaaaaa Aaaaaaaaaaaaaaaa~” Plio memicingkan mata
“Apaan sih!? Jangan mengeluarkan bunyi-bunyi aneh dong! Mengganggu yang sedang makan tau!” Muka Rechan memerah lagi
“Itu sensor orang yang lagi jatuh cinta tau!” Plio tersenyum nakal, Klio dan Rechan menjauh selangkah
“Sudah ah! Aku mau kembali” Rechan membalikkan badan tapi Klio memegang tangannya. “Hei!”
“Kau bilang tadi ada ibu dan yang lainnya ‘kan? Berarti kau melihatnya ‘kan”
“Eh? Iya memang kenapa? Lagian kalian mengikuti mereka ‘kan? Apa ada hubungannya dengan aku juga melihat mereka? Sudah ah kalian menyebalkan!”
“Bawa kami ke tampatmu tadi!”
“Ap.. TIDAK!”
“Kenapa?” Plio menyangga dagu rechan dengan tanggannya
Muka Rechan merah “JANGAN DEKAT-DEKAT!!” Rechan menendang dagu Plio dengan lututnya dan membuat Plio kesakitan
“Oi! Sakit! Aku kan cuma bercanda!” Plio mengelus-elus dagunya yang sakit
“Wajahmu jelek tau!”
“Kamu makan di sini?” Klio bertanya pada rechan menghentikan topik aneh Plio
“E… anu.. iya”
“Boleh kami duduk bersamamu?” Klio frontal saja toh tak ada waktu untuk basa basi
“E!? Itu… yah boleh lah…” Rechan menghela nafas “Tapi kalian harus berjanji!”
“Berjaji?” Plio berwajah bodoh
“Ya, kalian tidak boleh mengacau!”
“Siap!!!”
“Hhh~” Baiklah lewat sini
Rechan menuntun mereka ke mejanya. Melewati orang-orang yang berbincang, melewati orang-orang yang berbahagia di malam natal, melewati lilin-lilin yang menghiasi meja-meja couple. Sampailah mereka pada tempat Rechan. Di sana telah menunggu laki-laki dengan kemeja putih, memakai celana jeans biru dongker, rambutnya coklat pekat bergelombang, dipotong pendek dan rapi. Ia tersenyum pada Rechan dan yang lainya. Tangannya terletak di meja dan meminta pelayan untuk kursi tambahan. Rechan dengan malu duduk, Klio dan Plio duduk di sisi kanan dan kiri rechan dan laki-laki itu.
“Anu, sepertinya kita pernah bertemu” Klio memangdang laki-laki itu dengan tatapan tajam.
“APA!?” Rechan sangat kaget dengan pernyataan Klio “T..tidak mungkin! Tidak mungkin kalian pernah bertemu dia!”
“AH! Crell sama!” Plio baru ingat
“Ahaha kalian yang waktu itu ya, pantas saja familiar” Crell tersenyum
”U..uso! Lagi pula kenapa kalian memanggilnya dengan Crell ‘sama’!?”
“Dia dewa”
“He!?” Rechan menaikkan sebelah alisnya
“Pokoknya dewa” Plio ngotot
“Hmm, kenapa kalian bisa bersama Rechan? Aku kaget lo bertemu kalian di sini, kalian pacar Rechan?”
“APA!? BUKAN!” Rechan kesal
“Eh? Bukan yah ahaha maaf deh aku kan tidak tahu, lalu mereka ini…”
“Mereka… Adikku” lalu Rechan berkata dalam hati “Sial!!!!! AAAAARG! Kenapa harus ada mereka!?”
“O haha maafkan aku, aku kira siapa” Crell tersenyum lagi
Klio mencari-cari seseorang yang tersembunyi “Itu dia”. Plio menoleh pada arah yang ditunjukkan Klio ”EE!?”
“apa sih?” Rechan melihat apa yang Plio lihat
“Itu, ibu dan yang lain, memang terlihat dari sini, makanya aku menyuruh rechan membawa kita kemari agar lebih mudah memantau mereka”
“Ooh!” Plio terkesan
“Kalian sedang membuntuti mereka ya? Kalau begitu jangan berisik” Ucap Crell
“Eh anu…. Itu maaf kelakuan mereka memang aneh tidak udah di pedulikan ya hahaha” Rechan memerah lagi
“Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaa~”
“KUBILANG JANGAN..”
“ssssst nanti ketahuan!”
Rechan menggeram. “Tak apa kok, aku sudah tau kelakuan aneh mereka Rechan, jadi kakak perempuan pirang yang kalian maksud itu Rechan ya hahahaha”
“Kalian membicarakan aku padanya ya!?”
“hehe” Plio tersenyum.
“Sudahlah, lagi pula kalian sedang menguntit kan, jadi jangan berisik, pura-pura makan saja, ku traktir ya” Crell menawarkan sambil tersenyum
“Eh tapi itu, Crell kau tak harus…” Rechan salah tingkah dengan kehadiran adik-adiknya yang merepotkan
“Tak apa, mumpung lagi mood”
“Ooooh Crell sama memang baik!!”
Crell memanggil pelayan dan memesan apa yang Plio dan Klio pesan. Saat itu, mereka diam dan menikmati pesanan mereka sambil sesekali mengamati tingkah oyaji menggoda ketiga istrinya. Sepertinya oyaji minum sangat banyak dan mabuk. Ia membuka rok pelayan perempuan dan menggodanya. Alioth memukulnya hingga hidung oyaji berdarah. Namun Oyaji yang mabuk malah mencium bibir Alioth sambil (Adegan yang tak baik tidak usah saya tuliskan karena akan membawa dampak buruk. Cerita tentang itu akan saya lewat sebagai sensor :3). Rechan dan yang lainnya merasa jijik dengan pemandangan itu, terlebih lagi oyaji yang sekarang tak sadar berkat hukuman Alioth, pingsan di dada Hallevie. Hallevie mendorongnya ke meja dan kepala oyaji membentur piring berisi makanan. Makanan berhamburan di meja dan para pelayan panik.
Mata Rechan berkaca-kaca karena malu karena kelakuan mereka dilihat Crell. Ia merasa putus asa, acara makan malam yang indah itu menjadi hancur gara-gara pemandangan itu. Diam-diam Crell memperhatikan Rechan yang berkaca-kaca. Plio dan Klio merasa bersalah menyeret Rechan dan Crell dalam situasi seperti itu.
“Rechan?” Crell mulai khawatir akan Rechan, tatapannya kosong menatap meja.
“Ah!” Rechan kaget dengan panggilan Crell
“Kau tidak apa-apa?”
“Ah, itu, anu, euh….”
“Tak apa, bisa dimaklumi, kau kan sering cerita tentang keluargamu yang aneh, jadi aku sudah mengira akan seperti ini jadinya” Crell tersenyum “Eh! Jangan nangis dong!” Crell, Plio, dan Klio panik melihat Rechan menangis dan meringkuk di meja. Jarang-jarang Rechan menangis. Crell memegang tangan rechan dan mengelus kepalanya.
Seketika Rechan mendongakkan kepalanya karena kaget “Eh, itu…” Rechan salah tingkah, mukanya benar-benar merah sekarang.
Plio berbisik pada Klio “Pst, sepertinya kita mengganggu, ayo pergi, kita pantau dari tempat lain saja”
“kau masih mau memantau mereka?”
“Lagi pula mereka sudah mau pergi kan lihat itu”
“Yah kita tunggu mereka di luar saja”
Plio dan Klio meminta ijin pamit keluar dan merapikan kursi mereka. Plio dan Klio beberapa kali menoleh pada Rechan dan Crell saat perjalanan menuju keluar. Plio menunduk, Klio tetap bermuka biasa seperti biasanya.
Di luar mereka mencari tempat bersembunyi yang aman, agar tak terlihat kalau oyaji dan ketiga istrinya keluar.
“Ada apa?”
Plio mendongak “Hm? Tidak, aku hanya kasihan pada Rechan” Plio berwajah menyesal sekarang. Tetapi sepertinya kali ini tak di buat-buat.
“Hm iya juga sih” Klio memandang pintu restaurant mengawasi kalau-kalau para orang tua keluar.
“Kita selalu mengacaukan hubungan Rechan. Kau lihat kan tadi dia menangis gara-gara tingkah makhluk menjijikkan yang menggelayuti ibu-ibu kita”
“Ya… Apakah putusnya hubungan Rechan dengan Nifhln juga karena kita ya?” Klio menatap sepatunya
“Sepertinya… Yah untung saja sekarang ia bersama Crell sama, dia laki-laki yang sangat baik sih”
“Tapi tetap saja kasihan kan, uuuuuuu Rechanku yang manis kan jadi menangiiis~” Plio menggelayuti tangan Klio
“Rechanmu? Rechan bukan punya mu lagi dia sudah jadi kakakmu, sainganmu Crell sama lho”
“EE!? Aku kan Cuma bercanda! Lagian siapa yang mau sama Rechan!”
“Dasar bodoh”
“Kenapa kau mengataiku bodoh~ aku kan mencintaimu Klioku cayaaank ahahaha muach“ Plio mencoba mencium Klio dan Klio menamparnya
“Jaga sikapmu! Dasar yaoi!”
“aaaaaaaaaaaa~ aku kan cuma bercanda~ jahat deh!~”
“Berisik!” Klio mulai sebal lagi dengan kelakuan Plio yang kumat “Kalau kau berisik nanti kedengaran mereka”
“Mereka?..... Oooh! Sudah kaluar sssssssst!”
“Kau yang diam” Klio kembali mamantau para orang tua. Oyaji masih saja tak sadarkan diri, Alioth menggendongnya di pundak seperti korban penculikan. Alioth terlihat santai membawa Oyaji di pundaknya walau agak jijik. Hallevie memegang tas oyaji dan Audrey tak boleh membawa apa-apa. Audrey yang fragile baru saja sampai tadi pagi, jadi tak boleh capek agar tak kumat (data selengkapnya tentang Audrey akan disampaikan di lain waktu :3). Kakak beradik kembar itu kembali mengendap membuntuti.
“Alioth, kau tak apa membawa dia? Berat kan” Hallevie cemas melihat suaminya yang menggelantung di bahu Alioth
“Hm? Mau bagaimana lagi~ memangnya kau mau, tepatnya kau kuat membawa ini (yang dimaksud ‘ini’ itu Oyaji :3)?” Alioth berkata santai, Audrey hanya mengamati oyaji dengan cemas
“Ah, hahahaha tidak kuat sih~ Eh Audrey, jangan cemaskan makhluk ini (Yang dia maksud oyaji :3), nanti kau capek sendiri”
“Eh anu, Alioth, kenapa kau tidak telefon anakmu dan menyuruhnya membawa Echan pulang dengan motor?”
“Hm? Benar juga sih sebentar aku akan telefon” Alioth menjatuhkan oyaji ke tanah dan mengambil hpnya. Seperti biasa Audrey kaget melihat Alioth menjatuhkan oyaji yang tak sadarkan diri ke tanah.
Sementara itu Plio dan Klio juga kaget melihat ibunya menjatuhkan Oyaji ke tanah setelah mengobrol. Mereka tidak bisa mendengar dengan jelas pembicaraan mereka. Tetapi Klio sedikit menengar “telefon anakmu” dan mulai curiga “Perasaanku tidak enak”
“Hm?” Plio masih serius mengamati Alioth yang mulai menekan tombol di hpnya. Mau menelfon siapa ya ibu?”
“Salah satu dari kita”
“Hieee!?”
“~ I wanna Kill you now yeah~ I love you but I still wanna kill you~(Ringtone hp Plio. Saya tidak bisa bahasa inggris tapi yah intinya sih itu :3)”
“UWAAAAAAAAAAA!!!!!!!!!!!!”
“Benarkan”
Alioth menoleh ke arah Plio dan Klio. Hallevie dan Audrey juga ikut menoleh dan kaget. “Di situ kalian rupanya, dasar penguntit!” Alioth membawa oyaji dan berjalan menghampiri anaknya
“Eh! Anu! Itu!” Plio tergagap dan gemetar
“Tak apa lah, kali ini kumaafkan. Untung kalian di sini” Alioth mengangkat oyaji dan menaruhnya di pundak Plio “Kau saja yang bawa Echan ke rumahnya, kami mau pergi” Alioth meninggalkan mereka
“Eh tunggu!! Mau kemana!? Berat nih!” Plio protes dan menyesal telah protes, melihat ibunya jadi bermuka sadis membuat bulu kuduknya berdiri
“Bersenang-senang~” Hallevie tertawa dan pergi menggandeng tangan Audrey dan Alioth
“Hari yang sial ya”
“Apa! ‘Kan aku yang membawa oyaji! Kenapa kau yang mengeluh!” Plio kesal lagi
“Suka suka”
“Sialan!”
Plio dan Klio akhirnya pulang dengan putus asa di malam natal yang sial. Oyaji mengigau dan meraba-raba Plio. Plio pun menbantingnya ke tanah. Akhirnya Klio yang membawa oyaji pulang. Tapi anehnya satl Klio yang menggendong oyaji, ia tak mernah mengigau… :3