Jumat, 24 Desember 2010

The Night Before Christmas

24 Desember
06.25 pm
Aku melihat penampilanku di cermin. Kupikir aku sudah tampak rapi. Aku hanya menggunakan kemeja santai berwarna hitam motif garis-garis putih, celana jeans, dan jaket tebal untuk menghangatkanku dari dinginnya udara bulan Desember. Mengapa demikian? Malam ini aku diajak makan malam di rumah Xylia bersama keluarganya.
Beberapa hari yang lalu aku mengajak teman-teman kampusku untuk melewati malam ini bersama. Namun mereka menolaknya, dengan alasan pekerjaan atau lebih memilih melewati malam sebelum natal bersama keluarganya masing-masing. Lalu kemudian iseng-iseng kusapa Xylia yang kebetulan lagi online. Pada awalnya kami hanya membicarakan hal-hal tidak penting, sampai akhirnya dia menanyakan padaku, apa yang akan kulakukan pada malam sebelum natal ini. Kukatakan saja kalau aku tampaknya akan diam di rumah bersama Grale dan Gadang, karena Oyaji dengan para ibu akan pergi. Dan dia pun mengajakku. Begitulah.
Sebenarnya  dari dulu aku sering bermain ke rumahnya, tetapi malam ini adalah malam sebelum natal, christmas eve. Dapat dikatakan kalau christmas eve adalah malam yang formal, seformal thanksgiving. Oleh karena itu, entah mengapa aku merasa sedikit out of place. Namun kemudian akhirnya aku memberanikan diri keluar dari rumahku, masuk ke mobil, dan pergi menuju rumah Xylia.
06.30 pm
Di meja makan telah tersedia enam set alat makan. Aku memeriksanya sekali lagi karena sebentar lagi makanan sudah siap untuk disajikan. Ada ayahku, ibuku, aku, dan tentu saja adikku. Lalu untuk apa dua set alat makan lain di meja makan? Karena akan ada dua orang tamu yang kuundang. Kimi dan Wolfwood.
Aku merasa simpati saat Wolfwood mengatakan di chat-nya padaku bahwa ia akan melewati malam sebelum natal di rumah hanya bersama kakaknya Grale-san. Aku tahu ia tidak suka berdiam diri bersama Grale-san. Menurutnya Grale orang yang terlalu membosankan dan terlalu sering galau, tapi menurutku itu tidak benar. Grale-san orang yang baik dan sangat pengertian. Kalau Grale-san tidak seperti itu, siapa yang akan mengurus Wolfwood selama ini. Oleh karena itulah aku mengajaknya, Wolfwood, makan malam di rumahku.
06.55 pm
Akhirnya aku sampai di depan rumah Xylia. Kutekan tombol bel rumahnya, dan muncullah adiknya membukakan pintu. Aku masuk, melepas jaketku, dan menggantungnya di hanger. Aku dapat mencium aroma ayam yang baru keluar dari oven. Karena aku datang tepat saat hidangan makan malam telah disajikan, akupun dipersilakan langsung duduk di kursi meja makan.  Awalnya aku terkejut melihat Kimi, teman sekampus Xylia, yang duduk di kursi meja makan di sudut lain. Xylia tidak mengatakan sebelumnya bahwa Kimi juga akan hadir di acara makan malam itu. Tapi itu hal bagus. Setidaknya aku tidak perlu merasa terlalu terasingkan. Lalu setelah semua sudah siap, kamipun mulai menyantap makan malam yang telah disediakan.
“Kimi, Wolfwood, bagaimana chicken casserole-nya?” tanya ayah Xylia padaku dan Kimi.
Hmm... Enak, sedikit pedas... Ginger ya?” jawabku menebak.
“Ya, memang ada ginger, beserta beberapa spices lainnya,ibunya menjawab. “Kau tampaknya mengerti hal-hal ini, Wolfwood. Kau suka memasak?”
“Sejak kapan Wolfwood bisa masak?” celetuk Xylia dengan tatapan jahilnya.
Memang tidak bisa masak, kutatap sinis Xylia sesaat. “Grale yang masak, tapi aku rasa aku berbakat dalam hal rasa.
“Ya baiklah, terserah kau saja,” Xylia menjawab dan melanjutkan makan malamnya.
“Rasanya pas, lezat sekali,” Kimi memberikan opininya setelahku.
Suasana seperti ini membuatku berpikir, kapan terakhir kalinya aku dapat makan di meja makan bersama-sama? Ya, hal itu sangat jarang terjadi, terutama akhir-akhir ini.  Duduk di meja makan, sambil menikmati hidangan yang disajikan dan bercerita. Semua terlalu sibuk dengan urusannya masing-masing, dan yang paling menjengkelkan adalah saat semua dapat meluangkan waktunya, Oyaji malah mengajak para ibu pergi dan meninggalkan anak-anaknya sendiri.
07.15 pm
Setelah makan malam selesai, aku dan Ibu membereskan piring-piring dan menyimpan makanan sisa. Ayah, ..., Kimi dan Wolfwood duduk di ruang keluarga mencari siaran di TV yang menarik sambil menyantap potongan buah-buahan. Tampaknya yang dapat mereka tonton hanyalah berita-berita atau film-film yang berhubungan dengan natal, atau iklan-iklan sale natal dan akhir tahun. Tidak ada yang menarik. Merekapun lalu membicarakan hal-hal random, seperti tim baseball mana yang kira-kira paling kuat di tahun depan, kecelakaan atau bencana apa yang akan berpengaruh dalam cuaca dingin seperti sekarang, makanan apa yang paling enak saat musim dingin, atau lebih baik mati kedinginan di kutub utara atau mati kepanasan di Hawaii. Betul-betul pembicaraan yang random.
Aku dan Ibu akhirnya bergabung dengan mereka saat cucian piring kami selesai. Pembicaraan sempat terhenti, mungkin karena bingung pembicaraan random apa lagi yang dapat dibicarakan. Kamipun lalu memperhatikan siaran yang ada di TV. Saat itu sedang disiarkan tempat-tempat ramai dan tempat-tempat menarik untuk melewati christmas eve tahun ini. Ada suatu atraksi baru di pusat kota yaitu nonton air mancur yang diterangi sinar lampu yang meriah.
Wolfwood berkata “Uwaaa, Haru terlibat menyelesaikan lampu air mancur itu lho.
“Wah, serius?” tanya Kimi penasaran.
“Ya!” Wolfwood mengatakannya yakin.
Selain tampilan persiapan atraksi itu, ada pula arena ice skating indoor di dekat pusat kota dengan dinding-dindingnya yang sebagian besar terdiri dari kaca, sehingga pemandangan di luar arena dapat terlihat. Letaknya pun tidak jauh dari atraksi air mancur itu. Menarik menurutku.
“Menarik,ucap .... “Itu sebenarnya sudah lama dibuka, bukan? Aku sendiri hanya sempat lewat, dan belum pernah mencobanya.
“Ya, setahuku juga sudah sejak 9 bulan yang lalu,” Wolfwood menambahkan.
“Aku baru tahu lho,aku benar-benar baru tahu. “Kimi tahu?”
“Aku tahu,” jawab Kimi polos.
Mengapa tidak bilang? Padahalkan kita bisa main ke sana,” kataku agak kesal.
“Kalau begitu mengapa kalian tidak main ke sana saja sekarang?” ayahku bertanya.
Sejenak kami terdiam, dan lalu kamipun sepakat untuk bermain ke arena ice skating itu, tapi hanya aku dan Wolfwood, karena Kimi harus naik shinkansen ke Nagoya dan melewati natal di rumah kakek dan neneknya. Kamipun mengantarkan Kimi ke stasiun terlebih dahulu.
08.40 pm
Setelah mengantarkan Kimi ke stasiun, kamipun mengarah ke pusat kota. Ternyata pusat kota saat itu sangat ramai. Xyliapun memberi saran untuk parkir di daerah yang sedang kita lintasi, dan berjalan kaki dari tempat kami parkir ke arena ice skating sambil lihat-lihat suasana sekeliling kami. Menurutku bukan hal yang buruk, dan akupun lalu mencoba mencari tempat parkir.
Di sepanjang perjalanan sangat terasa feel malam sebelum natal. Lampu hias berwarna merah dan hijau yang sangat tepat dengan tema natal, pohon natal dengan berbagai macam ornamennya, orang berpakaian seperti Santa Klaus yang menawarkan kue natal, serta sale barang yang tiada habisnya. Sangat ramai.
Kami benar-benar terbawa suasana, melihat-lihat dan masuk sana-sini. Mencoba headband tanduk rusa dan mencicipi sample ginger cake yang ditawarkan, serta ikut bernyanyi dengan penyanyi-penyanyi christmas carol.
Di tengah jalan aku bertemu dengan beberapa teman ... . Ia pun memutuskan untuk bergabung saja dengan teman-temannya. Xylia memperbolehkannya dengan syarat … harus minta izin dulu pada orangtua mereka.  Di saat itu aku berpikir, … tidak terlalu jauh umurnya dengan kami, dan dia itu laki-laki. Seharusnya tidak perlu mengkhawatirkan hal seperti ini. Setelah … pergi bersama teman-temannya, aku dan Xylia melanjutkan jalan ke arena ice skating tersebut yang jaraknya sudah tidak terlalu jauh.

09.10 pm
Setelah berjalan berkeliling, akhirnya kamipun sampai di arena ice skating itu. Aku sempat terpana melihat bentuk arena itu dari luar. Menurutku bentuk bangunannya saja sudah sangat keren. Benar saja, arena itu memang sangat keren. Dari dalam arena, benar-benar terlihat dengan jelas suasana kota yang ramai, full of christmas spirit. Setelah persiapan, akhirnya kami menjajakan kaki di es yang licin. Jujur saja, menurutku aku cukup lihai dalam ice skating. Dari dulu aku sering datang bersama teman-temanku ke arena ice skating. Pada kasus Wolfwood, dia memang benar-benar lihai. Tentu saja, dulu dia adalah atlet ice hockey, dan aku tidak tahu alasan dia berhenti.
Di sana kami bercanda, berlomba siapa yang kira-kira lebih cepat maju ataupun mundur, melihat siapa yang bisa paling lama bertahan saat berputar, merem mendadak saat dekat dengan dinding, dan hal-hal bodoh lainnya yang menyenangkan.
10.55 pm
Kupikir sudah cukup lama kami berada di arena itu. Aku lalu mengajak Xylia untuk pergi beranjak dari tempat itu dan dia pun setuju. Sebelum benar-benar meninggalkan arena, kami sepakat untuk berlomba mengelilingi arena satu kali lagi. Karena ini putaran terakhir, Xylia mengusulkan sebuah taruhan, yaitu siapa yang kalah cepat harus memberikan piggy back ride. Menarik menurutku. Xylia cukup lincah dan dia memang tipe-tipe cewek sporty, kemampuan skating-nya juga bagus dan tidak bisa diremehkan.
Saat kami memulai lomba itu, Xylia ada di depanku, tapi tidak lama kemudian aku dapat menyusulnya. Tak sadar, jarak di antara kami memang tidak jauh, tapi aku memperlambat lajuku sedikit karena tenagaku cukup terkuras saat mengejarnya yang lincah itu. Lalu tiba-tiba aku melihat sesuatu yang mengejutkan di luar arena. Akupun terpaku beberapa saat.
“WOLFWOOOOOOOD, AWAAAAS!” Xylia berteriak di belakangku. Ia pun tidak bisa mengontrol lajunya, dan akhirnya menabrakku yang sedang melaju pelan karena terpaku pada sesuatu yang kulihat di luar sana. Aku membentur dinding kaca yang ada di belakangku dan kamipun jatuh mengenaskan.
“Aaaaw...,” rontaku kesakitan. Punggungku sakit akibat terbentur, tulang rusukku nyeri karena terkena sikut Xylia yang tajam, kaki kiriku keseleo karena saat jatuh tumpuan tubuhku tidak seimbang.
Xylia berdiri perlahan dan berseru, “Uwaaaaaaa! Maaf maaf, pasti sakit, ya? Bisa berdiri tidak?” sembari mengulurkan tangannya.
Aku menggenggam tangannya erat dan mencoba berdiri perlahan. Benar-benar sakit rasanya. “Antisipasinya kurang. Seriously, ini sakit sekali.
Lalu tadi mengapa kau mendadak meluncur pelan dan bengong melihat ke luar sana?” protesnya.
“Ta.. Tadi aku melihat liat Oyaji sedang berjalan dengan para ibu, lalu aku melihat Plio, Klio, Lena dan Lene membuntuti mereka.
Akupun mencoba menguatkan diri untuk keluar dari arena.
Sudah yuk. Ini sakit sekali, seriously.
Bagaimana kalau kita minum hot chocolate? Sepertinya tadi kita melewati café yang menunya serba coklat itu,” Xylia memberi usul.
“Ya, setuju.Aku keluar arena sambil memegang tulang rusuk dan menahan sakitnya kaki kiriku.
11.05 pm
Kami memesan dua hot chocolate, dan satu paket biskuit dip with chocolate vondue, juga seplastik es batu untuk memar di  kaki kiri dan daerah sekitar tulang rusuk Wolfwood. Aku suka suasana café itu. Langit-langitnya berbentuk chocolate bar, wallpapernya seolah-olah seperti coklat meleleh yang merambat turun. Suasananya hangat, sangat nyaman.
Kok tampak sakit sekali? Memangnya itu sakit sekali ya?” tanyaku iseng.
Tentu saja! Coba kamu bayangkan tertabrak dengan kecepatan seperti itu, dan jatuh pula!” Wolfwood terlihat kesal menjawab pertanyaanku.
“Iya iya, aku kan sudah meminta maaf.Aku benar-benar merasa bersalah.
Tak lama setelah itu pesanan kami datang. Saat mulai meminum coklat hangat dengan aroma dan rasa yang nikmat itu, wajah Wolfwood perlahan kembali berbinar. Dia mengambil salah satu biscuit vanilla dan mencelupkannya pada vondue coklat yang telah disediakan, tidak lama setelah itu diapun tersenyum dan mengambil sebuah biscuit lagi. Aku yang melihat ekspresinya yang berubah seketika itu, ingin rasanya aku tertawa. Dia terlihat seperti anak kecil yang marah dan bahagia seketika setelah diberi permen.
“Ahahahahaha..Tawa yang tak kusadari keluar dari mulutku dengan sendirinya.
Ada apa?” Wolfwood menatapku sambil mengangkat mug coklat hangatnya.
Tidak, aku tertawa karena kuenya lebih enak dari yang kubayangkan.Aku berbohong.
Dia kembali meminum coklat hangatnya, lalu meletakkannya lagi dan terdiam sejenak. “Tadi itu tidak ada yang menang ya, tapi kondisiku seperti sekarang karena kamu menabrakku barusan, jadi kamulah yang harus memberiku piggy back ride.
“APAAA?Tak sadar aku berteriak. Beberapa orang melihat ke arah kami, aku menutup mulutku sebentar, lalu berbisik pada Wolfwood,tidak mau, tidak akan pernah.
“Ayolah, itu tampak adil menurutku. Ia masih terus menghasutku.
Tidak!” Aku tetap tidak mau.
“Huh, gerutunya sambil mengambil biskuit lagi lalu memakannya.
Setelah itu pembicaraan mengenai topik tersebut tidak dilanjutkan. Kami membicarakan hal-hal lainnya, dan sepertinya Wolfwood tidak keberatan kalau aku mengatakan tidak pada permintaannya itu. Di café itu kami menghabiskan waktu untuk stretching dan istirahat sebentar setelah berjalan, skating, dan berlari  cukup lama.


11.50 pm
            Setelah terdiam menikmati coklat panas dan biskuit yang benar-benar enak, kami memutuskan untuk berjalan kembali ke arah mobil. Aku berjalan agak pincang akibat kakiku yang keseleo. Xylia melihatku agak khawatir, namun aku tetap mencoba memperlihatkan kalau aku masih kuat, walau aku punya firasat sakitnya masih akan terasa minimal dalam waktu 3 hari ke depan.
            “Xylia, daripada melihatku khawatir begitu, lebih baik kau benar-benar memberiku piggy back ride, kau tahu.Aku yang iseng mencoba mengungkit topik itu lagi.
            Dia tampak ragu sesaat lalu berkata,sampai belokan selanjutnya aja, ya.
            Aku sendiri terkejut dengan jawabannya itu, tapi aku mencoba untuk tidak terlihat kaget. “Begitu dong dari tadi. Tenang saja, aku tidak berat, kok.
            “Sudah cepat, lama-lama aku berubah pikiran, nih.” Dia tampak sudah mempersiapkan diri.
            Perlahan aku naik ke pundaknya, dan perlahan dia benar-benar mengangkatku. Awalnya tidak begitu stabil, tapi ternyata dia dapat menyeimbangkannya dan benar-benar menggendongku sampai simpangan selanjutnya. Namun sayangnya saat hampir sampai Xylia goyah dan kita terjatuh untuk kedua kalinya hari ini.
            Kali ini aku yang masih kesakitan berdiri duluan dan bertanya,kau tidak apa-apa?” sambil menawarkan bantuan tangan.
            “Ya, setidaknya tidak separah kamu, jawabnya sambil meraih tanganku.
            “Berarti kita impas ya,” mencoba untuk menyetarakan keadaan.
            “Tidak, sama sekali tidak. Aku jatuh dan memberikanmu piggy back ride. Kau hanya jatuh. Lain kali kau yang memberikanku piggy back ride.Wajahnya berubah kesal.
            Aku terdiam sejenak. Dia benar, walau saat jatuh dampaknya jauh lebih sakit padaku, tapi kupikir tetap saja tidak adil. “Ya, baiklah. Kapan-kapan kalau aku ingat.
            “Kalau kau lupa, aku akan terus ingat, kok.Xylia tersenyum puas.
            Tidak terasa sudah tengah malam, tepatnya jam 12. Atraksi air mancur yang tak jauh dari posisi kami pun dimulai. Sinar-sinar lampunya menari indah di atas langit yang hitam terlihat sangat kontras, ditambah dengan suara lonceng yang beriramakan natal. Aku dan Xylia terpana sesaat, menikmati sinar-sinar dan suara lonceng itu.
            “Xylia, kita pulang, yuk,” ajakku.
            Xylia mengangguk dan tersenyum.

Rabu, 15 Desember 2010

WOLFWOOD POINT OF VIEW (2)

Setelah adu mulut yang cukup singkat antara Haru dan Haruka, Harukapun pergi meninggalkan kantin dan membiarkan kita melanjutkan makan siang. Biasanya dia akan bergabung bersama kita, tapi kali ini dia tidak mau karena sudah terlalu kesal dengan Haru. Haru sendiri hanya melanjutkan memakan ramennya seperti tidak terjadi apa-apa barusan. Akupun cuek saja melanjutkan makan siangku yang sudah mulai dingin akibat di tunda adu mulut yang terjadi barusan.
Tidak lama setelah itu Haru telah menghabiskan ramennya. Ia meneguk kuah ramennya langsung dari mangkok dan menghentakkan mangkoknya ke meja cukup keras, membuatku dan Sora kaget. “Baiklah, kalian harus menemaniku sore ini!” pernyataan yang sangat membingungkan. Aku dan Sora hanya bisa terdiam menatapnya. “Kalian terlihat bingung sekali, kalian harus menemaniku hunting cewek sore ini!”
“HGGGGHH!!! Ohok.. ohok..” aku kaget sampai-sampai aku tersedak. Sungguh unexpected kata-kata yang barusan di lontarkan Haru. “Jadi kamu ohok.. serius? Aku punya jam kuliah sore kau tahu”
“Ayolah Wolfwood, jam kuliahmu jam lima bukan? Sekarang baru jam dua kawan, Sora kau pasti mau menemani temanmu ini bukan?” Sora memang terkenal akan ‘Ladies Men’nya.  Tampangnya yang cool itu sering membuatnya di kerubuni oleh cewk-cewek yang jatuh padanya bagaikan raja minyak dari Arab.
“Menemani sih boleh saja, aku tidak ada jam kuliah lagi” Sora yang dengan begitu saja rela menemani teman aneh satu itu.
“Aku pass, aku benar-benar nggak mau terlibat dalam hal ini” Jawabanku. Baru saja aku mau menyuap makan siangku yang masih tersisa sedikit lagi tiba-tiba Haru mengangkatku dan menggeretku pergi dari makan siangku, dari meja yang kita pakai untuk makan siang, dari kantin. “Baiklah baiklah, aku temenin, tapi kamu harus gantiin makan siangku yang ga habis tadi”
“Kalau semuanya berjalan lancar kawan” Haru dengan tampang kemenangan telah berhasil menggajakku walau secara paksa melepaskanku dari genggaman tangannya yang dari tadi menggeretku seperti tas berisi bola basket yang akan di dribble dan di shot ke sana ke mari.
Sebenarnya aku tahu alasan dia menggajakku. Dia hanya akan memanfaatkan jasa transportasi dan agar terlihat keren. Kenapa? Karena aku membawa mobil Mustang GT 2008 berwarna biru dongker yang ku temukan sekitar dua bulan yang lalu di garasi rumah tergeletak tidak pernah di pakai. Sesampainya di parkiran mobil aku membuka kunci mobil lewat tombol dari remote yang terdapat di kunci mobil. Haru yang sangat tidak ingin repot hanya loncat dan duduk di kursi samping kursi supir, dia selalu mengabaikan pintu mobilku mentang-mentang mobilku topless. Sora yang terpaksa duduk di belakang setidaknya tetap masuk dengan cara yang benar. Membuka lalu menutup pintu mobilnya. Tak peduli aku menyalakan mesin mobil dan menjalankannya keluar dari parkiran. Setelah melewati gerbang kampus aku pun bertanya “Mau kemana?”
“Shibuya tentunya kawan” Haru mengatakannya dengan sangat santai dan menggambil kacamata hitam Ray-Banku yang ada di lemari mobil dan memakainya. Aku tidak keberatan.
“Haru, kalau kau mencari cewek-cewek nggak jelas di Shibuya terlihat kalau kau itu desperate. Sama saja artinya kau kalah taruhan dengan Haruka. Menurutku setidaknya kau harus mencari cewek yang intelek dan tentu saja cantik, agar kau bisa menang telak” Sora memberikan pendapat yang sangat bagus, dan apa yang di katanyanya cukup benar menurutku sendiri.
“Begitukah ? kalau begitu kita ke TODAI! Di sana banyak cewek intelek bukan”
Aku sekali lagi sempet di kagetkan oleh Haru, kaget di sini kaget dalam artian ‘GUBRAK’ agak tergoyah tanganku saat itu jadi loss dari setir sehingga moilpun goyah sesaat. “Kenapa harus TODAI? Intelek sih iya, tapi apa ga terlalu.. terlalu intelek?” susah memang menjelaskan kepada Haru.
Sorapun Nampak bingung bagaimana menjelaskannya kepada Haru. “Kau itu tidak mengerti atau sengaja sih sebenernya?”
“Sudahlah, jangan banyak komentar. Mengarahlah ke todai” Haru sangat tidak dapat dimengerti. Tidak ada yang bisa dilakukan selain mengikuti apa yang Haru inginkan, kata-katanya terasa mutlak. Terpaksa aku mengarahkan mobil ke arah TODAI Tokyo Daigaku atau Tokyo University, universitas nomer satu di di jepang dan juga nomer satu di asia.
Sesampainya di TODAI aku memarkirkan mobil di depan gerbang merah kebanggaan TODAI, aku menyuruh Haru untuk berkeliling tapi dia tidak mau. Dia bilang dia tidak mau capek berjalan ke sini ke mari mengelilingi TODAI yang luas. Cukup dengan ‘mejeng’ di depan TODAI dengan mobil yang mewah, memakai kacamata Ray-Ban dan berlagak cool pun pasti membuatan para wanita penasaran katanya. Aku mengajak Sora berkeliling dan membiarkan Haru ‘mejeng’ di sana sendiri. Tapi ternyata Haru tidak memperbolehkan Sora untuk pergi. Sora harus tetap bersamanya agar terlihat makin cool dan kalau ada yang penasaran, Haru tidak sendirian untuk meladeni mereka yang terkait bukan seperti yang di harapkannya.
Akhirnya akupun berkeliling sendirian. Entah kenapa aku memutuskan mengelilingi kampus TODAI, mungkin untuk meihat sisi seni dari seantaro kampus itu atau hanya untung-untungan bertemu dengan Grale. Grale sendiri pernah mengatakan padaku kalau dia sedang tidak di MAU berarti di TODAI membantu dosennya dulu atau mungkin praktek di suatu rumah sakit.
Semakin aku mengelilingi kampus itu semakin aku merasa bosan, tidak ada sesuatu yang menarik untuk kulakukan. Aku berpikir ini akan membuang cukup banyak waktu kalau Haru cukup keras kepala untuk tidak pulang sampai dia berhasil menemukan mangsanya. Kulihat handphoneku dan terlihat jam yang menyatakan pukul tiga lewat lima belas menit. Aku sangat berharap Haru cepat menelfon untuk membawanya pulang dari TODAI. Terbesit pikiran kalau jam empat lebih dua puluh menit dia tidak menelponku aku akan memaksanya pulang agar kelasku yang mulai jam lima sore itu terkejar.
Aku bisa melihat salah satu taman umum kecil yang mungkin sebenarnya ada banyak di suatu kampus. Ada beberapa siswa di taman itu. Sedang membaca, sekelompok siswa yang terlihat ngobrol, ngemil bahkan memainkan Playstation Prortablenya. Tipikal taman yang ada di di kampus manapun.
Saat aku memutuskan untuk duduk di bawah pohon yang ada di taman itu, aku melihat sosok seseorang yang agak samar. Aku focus pada orang itu dan otakku mulai berpikir siapa sebenarnya orang itu. Dia seorang perempuan, rambutnya tidak terlalu panjang di bawah pundanhnya sedikit. Warnanya hitam dan gelombang tapi mendekati lurus. Penampilannya sangat casual, biasa saja penampilannya itu, dan muka itu.. tidak salah lagi, aku mengenalinya. Sangat mengenalinya.
Aku berjalan mendekat perlahan Dia sedang membicarakan sesuatu dengan temannya, tapi Nampak tidak apa-apa kalau aku menyela dengan sekedar mengatakan “hai” lalu aku bisa pergi lagi agar pembicaraan dengan temannya tidak terganggu. Sekarang perbedaan jarak kita hanya beberapa meter, cukup dekat tapi tidak terlalu jauh pula. Ini jarak yang cukup untuk memulai pembicaraan saat lawan bicara tidak menyadari keberadaan kita. Akhirnya akupun menyapanya dengan casual. “yoo..”




to be continued..
eve essere continuata..
“Makasih ya hari ini, semua berjalan lancar!” laki-laki yang tingginya standar dan pakaiannya standar itu tersenyum puas menatap orang yang ada di sebelahnya.
            “Ya, sama sama” seorang perempuan tersenyum kembali padanya yang tingginya tidak terlalu jauh itu. “Tapi habis ini kamu harus menjelaskan semuanya pada Kimi mengerti! Dan jangan lagi membuat plot di belakang kita!”
            “Ya” dibalasnya lagi dengan rasa senang telah berhasil membantu teman se kampusnya dan juga bertemu lagi dengan teman lamanya.

Potrait: Its Been A While.. 
ita stato un po '


WOLFWOOD POINT OF VIEW (1)

Nampaknya sudah tiga bulan aku merasakan keseharianku sebagai anak kuliah. Tidak terasa sudah setengah semester ku lewati. Akupun mengikuti ‘Entertainment Club’ atau yang sering di singkat ‘EC’, suatu club yang sering mengadakan teater atau kabaret, show kecil-kecilan, bahkan film-film pendek juga melakukan hal-hal yang cukup eccentric di seantaro MAU. Ya sebenernya semua anak MAU itu eccentric karena kita semua seniman, tapi bisa di katakan kita “one step ahead from being accentric” dari yang lain.
Pagi ini aku harus berhadapan dengan Buroosu sensei dan pelajaran Pengantar Teknologi Informasi (PTI) yang sangat menyebalkan! Kenapa aku bilang menyebalkan? Karena kumisnya itu sangat mengusik batin saat mencoba memperhatikan dia!!! Kalau saja kumisnya itu di pangkas pasti aku akan lebih focus memperhatikan apa yang dia ajarkan.
Setelah satu sesi bersama Buroosu sensei yang selesai sekitar jam duabelas siang(mulainya sekitar jam sepuluh pagi) aku menuju kantin dan makan siang. Masih di sekitar kampus aku bertemu dengan Sora teman se club ku yang anak Arsitek, rambutnya seperti lurus dan tajam yang memang alami, menggunakan kacamata, memakai kemeja, jeans hitam, membawa storage tube di pundaknya dan tas selempang yang mungkin isinya buku-buku mata kuliahnya. Rapih dan terlihat cool. Orangnya pun seperti penampilannya. Aku mengajaknya makan siang di kantin kampus dan dia bersedia menemaniku karena dia tidak ada jadwal kuliah lagi setelah ini.
“Sora, bagaimana dengan skrip film kita ?” aku penasaran akan tema film yang akan kita buat untuk di tampilkan di suatu festival short film tahun ini.
“Aku sedang buntu kawan, tema untuk tahun ini cukup menantang menurutku, ‘people and there activities’! aku ingin menceritakan tentang seseorang dan activitas yang di lakukannya setiap hari, tapi aku ingin aktivitas itu yang cukup aneh untuk di jadikan sudut pandang” dia menjawab sambil memperlihatkan coretan-coretan ide, setting, list tempat-tempat yang jarang di datangi oleh turis dan tempat-tempat yang padat pengunjung. Dari situ sangat terlihat kalau dia sang ‘Script writer’ benar-benar ingin membuat skrip yang mengejutkan.
Tiba-tiba datang seseorang yang duduk di hadapanku yang sekaligus duduk di sebelah Sora. “Aku punya ide, bagaimana kalau kau membuat cerita tentang seseorang yang ingin membuat kembang api terindah di seluruh Jepang? Alasan utama dia ingin membuatnya karena adiknya yang sangat suka kembang api dan dia ingin membuat adiknya senang. Oh iya, adiknya terlihat ceria di luar tapi adiknya ini sebenernya hampa karena ibunya yang meninggal akibat kecelakaan, hmm.. kebakaran mungkin ?” berhenti berbicara lalu ‘menyuruput’ miso ramen ebinya yang pedas. Dia adalah Haru, menurutku dialah yang paling ‘FREAK!’ di antara semua anak  EC. Dia mahasiswa ‘Space Plannig Design/Lightning Design’ mereka focus pada penampilan ruangan, tata letak juga penerangan pada exhibition atau showroom. Penampilannya pun menjelaskan sifat orangnya sendiri. Rambutnya acak-acakan, dia menggunakan kaos dan jacket lalu celana jeans berwarna biru, membawa tas ransel yang isinya kabel-kabel yang sedikit keluar. Mungkin dia buru-buru. Dia suka tiba-tiba menghilang selama beberapa hari dan kembali lagi secara tiba-tiba, ide-idenya brilliant, tapi tak ada yang mengerti pola pikirnya.
“Hmmm..” Sora yang mempertimbangkan ide Haru tadi “Bisa, itu cukup bagus, kita bias menunjukkan prose’s dia membuat kembang apinya, dan aku bisa meracik cerita tentang ibunya yang meninggal karena kecelakaan itu” Sambil menuliskan beberapa point-point penting yang akan di masukkan ke dalam skrip.
“MEEEEEEEEIIIIIIIIIIIIIIIII” Suara yang melengking terdengar agak jauh dari meja kita. Di sana terlihat Haruka, bukan.. bukan saudara kembarnya Haru mentang-mentang namanya mirip, tapi kebetulan saja mirip, bedanya Haruka adalah seorang cewe yang cerewet, sarkastik, ceria dan expresif. Diapun salah satu anggota EC yang cukup modis sebagai seorang perempuan, tentu saja salah satu faktornya karena dia adalah murid Fashion Design. Berambut panjang sampai ke bahu, berwarna coklat kemerahan alami dan agak bergelombang, . . .  . . . . . . . .”Mentang-mentang kita satu club dan satu departemen walau beda bidang teman se kelasmu menyuruhku memberikan bukumu ini yang lagi-lagi kau tinggalkan di dalam kelas! Bukumu cukup berat kau tau!”
“Justru karena berat aku meninggalkannya di kelas, toh tidak akan ada yang mengambilnya bukan? Dan jangan panggil aku Mei!” Haruka memanggil Haru dengan sebutan Mei dari Haru Meitetsu, 3 huruf awal nama keluarganya. Haruka memanggilnya Mei karena tidak ingin tertukar namanya dengan Haru saat di panggil di club.
“Kau terlalu ceroboh kau tau!” Haruka menunjukkan ekspresi kesalnya.
“Tidak ada yang terganggu atas kecerobohanku kecuali kau Haruka” Haru yang tidak tidak peduli akan omelan Haruka.
“Kalau kau tidak merubah sifat cerobohmu itu kau tidak akan pernah mengajak seorang perempuan jalan bersamamu!”
“Oke itu keterlaluan, aku bisa menunjukkannya kepadamu kalau itu tidak benar! Aku bisa kapan saja mengajak siapapun yang aku mau! ”
“Begitukah? Aku tantang kau di festival jazz minggu depan untuk mengajak seorang perempuan datang bersamamu!”
“Hahahahaha!! Akanku buktikan padamu satu minggu lagi! Jika tidak aku akan melakukan apa saja yang kau mau, sebutkan”
“Aku ingin kau memakai kostum monyet saat itu tidak terjadi”
“Itu saja?” Haru yanag merasa kostum moyet tidak akan membuatnya malu karena dia sudah biasa akan hal yang sedikit eccentric itu.
“Sambil bergelantungan di gerbang depan MAU” Haruka tersenyum sinis tanda kemenangan yang mutlak. Aku sendiri sempat berfikir kalau hal itu akan sangat memalukan, terutama kalau bergelantungan di gerbang MAU yang terkenal akan bentuknya yang sangat sederhana namun artistic dan penuh arti.
“Deal” Haru yang terlihat cukup optimis membalasnya dengan senyum yang mengartikan dia tidak takut akan gertakan Haruka, menurutku pribadi gertakan itu cukup mencuitkan batin.


to be continued..
eve essere continuata..

Foto keluarga

Foto keluarga...
Silahkan tebak siapa yg siapa...

Minggu, 12 Desember 2010

fanfic


 Tokoh-tokoh CLF yang patah hati


 Fumi mati di tembak yakuza


  Fumi ditusuk saat pesta (makanya jadi seperti yang diatas)


 Rechan yang menangis


 Rechan yang dipeluk Crell (nanti kuceritakan dia)


 Siapa yang bisa mengambil hati Alioth?


 Hantu di mimpi buruk Wolfwood


Plio bersedih melihat Klio pergi meninggalkannya



Hahahaha ini hanya iseng belaka, ada yang nanti memang ada di cerita, ada juga yang bukan (hanya fanfic) hmm tebak yang mana yang akan ada di dalam cerita hehe