Minggu, 17 Oktober 2010

Sayonara Nifhln (ini iseng)

Aku terus berjalan mengejarnya, terpaan salju yang dasyat tak mengurungkan niatku. Ku biarkan rambut pirangku diterpa angin, namun entah mengapa air mataku terus mengalir walau nantinya akan membeku di udara yang merobek peru-paruku. Jalanan benar-benar redup sekarang, lampu jalan belum sampurna dinyalakan, kastil-kastil kosong kulewati dengan acuh, aku terus berlari mengejarnya. Aku tiba ditikungan, namun sosoknya menghilang.

Aku mengikuti perasaanku akan tikungan kanan di depanku, benar saja, aku melihat Nifln disana. Aku panggil namanya, namun ia tak mau mendengar, aku mempercepat lariku, namun ia juga melakukannya

“Nifln!” Aku mengangis namun ia tak peduli “Nifln! Tunggu aku!!” Namun ia tetap berlari menjauh dariku.

Pandanganku mulai kabur, salju mulai menumpuk dan aku pun tersandung-sandung, namun aku tetap bersikeras untuk mengejarnya. Ia berusaha tak terlihat, namun rambut biru tuanya tetap mengalihkan perhatianku, aku mengejarnya kamanapun ia pergi. Biar bagaimana pun aku ini perempuan, tidak sekuat laki-laki, terkadang aku kehilangan jejaknya.

Aku terus memanggilnya sambil menangis, orang-orang hanya melihatku dengan tatapan mengasihani. Untuk sesaat aku putus asa dan ingin membiarkannya pergi. Namun sesaat ia menoleh dengan wajah teramat dingin yang menusuk hatiku. Keinginanku untuk mengejarnya pun kembali. Mungkin ia mulai kelelahan, larinya melambat. Entah karena latihan yang telah Alioth berikan atau kebiasaanku mengejar Plio dan Klio, Staminaku lebih kuat dari sebelumnya.

“Kumohon Nifln…” Aku sangat lelah, pandanganku semakin dan semakin kabur, energiku terkuras karena menangis tanpa henti.

Dengan tiba-tiba ia berhenti di tengah jalan yang tertutup salju yang semburat jingga di terpa lsinar lampu jalan yang menghanyutkan. Tanpa aku sadar salju sudah berhenti turun, entah ini dimana tetapi disini begitu sunyi, hanya ada suara isak tangis ku dan nafas memburu Nifln.

Dari belakang aku dapat melihat ia menunduk, tangannya mengepal begitu kuat. Aku berhenti menangis, namun masih terisak. Keadaan hening namun menegangkan. Aku mendekat, mencoba menyentuh pungungnya

“Berhenti!!”

Aku tersentak dan membeku, aku menarik kembali tangan pucatku yang gemetaran dan ikut menunduk. Sinar lampu jalan yang lembut menyinari kepalaku dan Nifln yang tertunduk. Keadaan hening kembali. Aku berlutut sekarang, aku memandang tumpukan salju dengan tatapan kosong. Seperti inikah saat terakhirku?

Dengan tiba-tiba ia berbalik dan memandangku dengan dingin, sontak aku memandangnya, pandangan kami bertemu, air mataku kembali mengalir. Namun aku takut, aku takut pada pandangan dinginnya. Aku kembali menunduk. Aku membuka mulut dan menutupnya kembali. Aku melihat sepatu yang selalu ia kenakan disaat kami bersama. Aku terus memandanginya, aku tahu ini saat terakhirku melihatnya, walau begini caranya

“Reach...“

untuk pertama kalinya saat itu ia memanggil namaku walau tak lengkap, aku memandangnya dengan pandangan kosong

“Kau tau, aku telah memberi tahumu walau secara tak langsung“

aku menunduk kembali, membuka mulut dan menutupnya kembali

“Apa perlu aku mengatakannya dengan kasar?“

aku bergeming

“Aku...“ Ia tersendat

aku tetap bergeming memandang sepatunya, membiarkan hawa dingin merobek paru-paruku.

“Lupakan semua“ Terdengar nada penyesalan pada kata-katanya “Pulanglah, sudah malam“

aku tetap bergeming

“Tak ada yang bisa kau harapkan disini“

kejam

“Tak usah berharap lagi, aku akan pergi“

sungguh kejam

“Kenapa kau tetap disana? Apa yang kau tunggu? Kasarnya aku mengusirmu“

aku tak tau lagi harus melakukan apa

“Kau hanya berusaha menggenggam angin, kau akan mendapatkan sesuatu yang kosong, tidakkah kau mengerti?“

“Tapi mengapa begitu cepat?“

“Aku harus pergi, aku akan menginggalkan penyesalanku disini, aku akan melupakanmu selamanya, dan kau pun begitu“

...

“Jangan diam disana, nanti kau sakit, pulanglah“

tidak mau

“Baik kalau kau tetap ingin disana, aku akan pergi...“

aku tersentak

“Sayonara...“ Nifln melangkah menjauh

aku mencoba mengejarnya, namun aku terjatuh, aku merangkak memanggil namanya, aku menangis lagi, aku mencakar-cakar salju berusaha mengejarnya. Namun ia terus berjalan

“Nifln! Tunggu! Nifln Nifn...“ Aku terjatuh, mukaku bertemu dengan tumpukan salju dan air mataku yang membeku. Aku membiarkan rambutku tergerai.

Dengan berat hati, dengan sakit pada hatiku yang luar biasa, aku mengucapkannya denagn lirih

“Sayonara...“

Aku tak akan bisa melihat rambut biru tuanya yang bergelombang, tawa nakalnya, tangannya yang lincah memainkan segala alat musik, tangannya saat melukis,mulutnya saat membuat perempuan dan anak-anak menangis, kakinya saat iseng menendang kaleng di jalan, kata-katanya yang menusuk dan nakal, tawanya yang menyebalkan, kata-kata cercaan untukku, kritik mengenaskan, mata hijau yang cemrlang namun memancarkan jiwa nakal dan pikiran licik,sepatunya yang senantiasa ia lemparkan pada kepalaku yang nganggur, dan plester yang tertempel pada dagunya...

Baiklah kalau itu maumu, hakmu untuk melupakanku, hakmu untuk meninggalkanku, hakmu untuk mengacuhkanku, dan aku pun tak peduli jika kau tak tahu, bahwa aku akan menunggumu, walau saat kau datang, kau sudah bersama seseorang, kau tertawa bahagia bersamanya, aku akan mendukungmu, walau sakit.

Sayonara... Aku akan selalu mengingatmu, walau kau melupakanku, mungkin aku memang idiot seperti katamu, Plio dan Klio, namun aku tulus, maaf kalau aku selalu mengganggumu, aku berusaha menjadi yang terbaik...

Sayonara...



Lagu kesukaan Hasya pas disini:
Meski waktu datang dan berlalu sampai kau tiada bertahan
Semua takan mampu mengubahku, hanyalah kau yang ada di relungku
Hanyalah dirimu mampu membuatku jatuh dan mencinta
Kau bukan hanya sekedar indah, kau tak akan terganti...


Reacchasque Chralcalein



NB:Rambut rechan udah panjang ceritanya, jadi lebih mendramatisir wkwk

Tidak ada komentar:

Posting Komentar